Selamat pagi teman-teman pengguna setia Telkomsel. Kali ini kita akan bahas terkait layanan paket promo 4G ceria. Mungkin beberapa dari kalian pengguna setia telkomsel, masih belum tau tentang layanan paket ini, atau pernah dapat penawarannya tapi tidak bisa diaktifasi. Pertama perlu saya jelaskan terlebih dahulu terakit paket internet 4G ceria telkomsel, jadi paket ini merupakan paket promo yang hanya berlaku bagi pelanggan withlist telkomsel dengan pelbagai macam varian penawaran menarik, ada yang harga 10.000 dengan cakupan benefit kuota internet 2,5 GB 4G + 120 min onnet dan 200 sms onnet dengan masa aktif 7 hari. Harga 6000 dengan benefit kuota 20GB (17GB 4G + 3GB allnet ) + kuota telfon 30 menit onnet., dan pelbagai penawaran paket lainnya. Penawaran yang didapatkan tergantung dari rata-rata penggunaan bulanan, masa aktif penggunaan , dan tentunya tergantung dari kebijakan pihak telkomsel. Berkaca dari pengalaman sebelumnya, penawaran ini b...
GAMBARAN PENGETAHUAN SISWA KELAS XI TENTANG HIV/AIDS DI SMA
NEGERI 1 SUNGGUMINASA TAHUN 2013
Karya Tulis Ilmiah
Diajukan Untuk
Memenuhi Salah Satu Syarat Meraih Gelar Pendidikan
Ahli Madyah
Kebidanan Jurusan D III Kebidanan
Pada Fakultas
Ilmu Kesehatan
UIN Alauddin
Makassar
Oleh
KHULLIYAH PUTRI SAMIRA
70400010035
JURUSAN KEBIDANAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2014
DOWNLOAD POWER POINT PRESENTASI
ABSTRAK
Khulliyah Putri Samira “Gambaran
Pengetahuan Siswa Kelas XI tentang HIV AIDS Di SMA Negeri 1 Sungguminasa 2013”
(Dibimbing
oleh dr. Andi Sitti Rahma, S.Ket)
(VI
BAB, 45 halaman)
HIV merupakan singkatan
dari Human Immuno deficiency Virus adalah virus yang dapat melemahkan kekebalan
tubuh pada manusia. Sedangkan AIDS
adalah singkatan
dari Acquired Immune Deficiency Syndrome
adalah kumpulan dari gejala dan infeksi atau biasa disebut sindrom yang
diakibatkan oleh kerusakan sistem kekebalan tubuh manusia karena virus HIV.
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan siswa kelas XI tentang
HIV/AIDS di SMA Negeri 1 Sungguminasa . jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian
yang bersifat deskriptif dimana populasi
dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMA Negeri 1 Sungguminasa ,
jumlah sampel adalah sebanyak sebanyak 266 orang yang dipilih secara cluster
random sampling. Selanjutnya data diperoleh melalui kuesioner dan di analisis
secara univariat dari setiap variabel jawaban pertanyaan.
Hasil penelitian yang diperoleh
yaitu pengetahuan siswa tentang penyebab HIV/AIDS sebanyak 98,12%
(261) orang, Pengetahuan siswa kelas XI
tentang Gejala HIV/AIDS adalah 98 % (260), Pengetahuan siswa kelas XI tentang
pencegahan HIV/AIDS adalah 92,5 % (246), dan Pengetahuan siswa kelas XI tentang
penularan HIV/AIDS adalah 79,7% (212). Dari hasil penelitian ini diharapkan
kepada siswa khususnya kelas XI Diharapkan untuk para siswa lebih memperhatikan
lagi mengenai kesehatan reproduksinya dan secara aktif mencari informasi
mengenai HIV/AIDS.
Kata
Kunci : Pengetahuan,
Siswa, HIV AIDS
Daftar
Pustaka : 19
(2002-2013)
ABSTRACT
Khulliyah daughter
Samira " Preview Class XI student knowledge about HIV AIDS in SMA Negeri 1
Sungguminasa 2013 "
(
Supervised by dr . Andi Sitti Rahma , S.Ket )
(
Chapter VI , page 45 )
HIV stands for the Human Immuno
Deficiency Virus is a virus that can weaken immunity in humans . While AIDS
stands for Acquired Immune Deficiency Syndrome is a collection of symptoms and
infections or so-called syndrome caused by damage to the human immune system
due to HIV virus .
This study aims to describe the
class XI students' knowledge about HIV / AIDS in SMA Negeri 1 Sungguminasa .
type of research used descriptive research that is where the population in this
study were all students of class XI SMA Negeri 1 Sungguminasa and are made in
the sample in this study is part of a class XI student is sebanya 266 people
and elected cluster random sampling . Furthermore, the data obtained through
questionnaires and in the univariate analysis of each variable answers the
question .
The results obtained are the
causes of students' knowledge about HIV / AIDS as much as 98.12 % ( 261 ) of
people , a class XI student knowledge about the symptoms of HIV / AIDS was 98 %
( 260 ) , a class XI student knowledge about the prevention of HIV / AIDS is 92
, 5 % ( 246 ) , and a class XI student knowledge about HIV / AIDS was 79.7 % (
212 ) . From the results of this study are expected in particular to students
of class XI students hoped for more attention to the reproductive health and
are actively looking for information about HIV / AIDS.
Keywords :
Knowledge, Students, HIV AIDS
Bibliography : 19 (2002-2013)
Bibliography : 19 (2002-2013)
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
HIV merupakan singkatan dari Human Immuno deficiency Virus adalah virus yang dapat melemahkan kekebalan
tubuh pada manusia. Sedangkan AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah kumpulan dari gejala dan
infeksi atau biasa disebut sindrom yang diakibatkan oleh kerusakan sistem
kekebalan tubuh manusia karena virus HIV. (Dorothy M. Russel 2011)
Seluruh dunia diperkirakan lebih dari 40 juta
orang menghidap HIV/AIDS, sekitar 75% yang tertular HIV/AIDS berada di kawasan
Asia Pasifik dan Afrika, lebih dari 20 juta jiwa telah meninggal karena AIDS.
Sedangkan pada benua Asia diindikasikan memiliki laju infeksi HIV tertinggi di
dunia. Prevalensi HIV tertinggi terdapat di wilayah Asia tenggara dengan tren
epidemik yang bervariasi di seiap negara. (Dorothy M. Russel 2011).
Indonesia sendiri jumlah infeksi
HIV menunjukkan adanya peningkatan. Sepanjang periode 1996 sampai dengan 2006,
angka kasus HIV meningkat sebesar 17,5 persen dan diperkirakan bahwa ada sekitar
193.000 orang yang saat ini hidup dengan HIV di Indonesia. Epidemik AIDS
umumnya terkonsentrasi pada populasi berisiko tinggi di sebagian besar wilayah
Indonesia dengan prevalensi orang dewasa dengan AIDS menurut estimasi nasional
0,22 persen pada tahun 2008. Dua provinsi di Tanah Papua (Papua dan Papua
Barat) mengalami pergeseran ke generalized epidemik dengan prevalensi 2,4 persen
pada populasi umum usia 15-49. (Kemkes 2007).
Sulawesi Selatan hasil SDKI 2007 menunjukkan
bahwa terdapat 61% wanita pernah kawin dan 71% pria kawin pernah mendengar
tentang AIDS. Angka ini serupa dengan yang tercatat di SDKI 2002-2003 (59% pada
wanita dan 73% pada pria). Wanita dengan umur 20-39 tahun, wanita berstatus
kawin, wanita yang tinggal di perkotaan dan wanita berpendidikan lebih tinggi
lebih banyak mendengar tentang AIDS dibanding wanita lainnya. Tingkat
pengetahuan pada pria kawin mengikuti pola yang sama seperti pada wanita,
dengan tingkat pengetahuan lebih tinggi pada pria perkotaan dan pria
berpendidikan lebih tinggi. Meskipun banyak wanita dan pria Indonesia mempunyai
pengetahuan dasar tentang AIDS, namun tingkat pengetahuan tentang cara
mengurangi risiko terinfeksi pada u mumnya rendah. (SDKI 2012).
Masalah HIV/AIDS merupakan fenomena gunung es Menurut komisi
penanggulangan AIDS pada bulan april diperoleh data dari Sulsel terdapat 3118
penderita HIV dan 1163 AIDS, sedangkan di Makassar terdapat 2700 HIV dan 874 AIDS yang berarti
bahwa pada kedaan sebenarnya jumlah penderita HIV/AIDS jauh lebih banyak. (Renstra
Kota Makassar 2000-2009)
Masa remaja adalah masa yang penuh gejolak, masa yang penuh dengan
berbagai pengenalan dan petualangan akan hal-hal terbaru termasuk berinteraksi
dengan lawan jenis, rasa ingin tahu remaja kadang-kadang kurang disertai
pertimbangan rasional dan pengetahuan yang cukup akan akibat lanjut dari suatu
perbuatan. Daya tarik persahabatan antar kelompok, rasa ingin tahu yang besar
kaburnya nilai-nilai moral yang dianut,
kurangnya kontrol dari pihak yang
lebih tua (dalam hal ini adalah orang tua), berkembangnya naluri seks
akibat matangnya alat-alat kelamin
sekunder, kurangnya informasi mengenai seks dari sekolah atau lembaga formal
serta berbagai informasi mengenai seks dari media massa yang tidak sesuai
dengan norma yang dianut menyebabkan remaja semakin sulit dalam mengambil
keputusan mengenai masalah prilaku seksual yang bertanggung jawab dan sehat.
(Kurniawati 2008).
Rafida fitriani menulis dalam KTInya adanya vidio mesum tentang remaja
yang melakukan seks bebas di kota Sungguminasa, sehingga tidak menutup
kemungkinan HIV/AIDS bisa melanda siswa di SMA Negeri 1 Sungguminasa. (Rafidah
fitriani 2012)
SMA Negeri 1 Sungguminasa merupakan salah satu sekolah unggulan yang
seharusnya dapat menjadi contoh bagi sekolah lain dari segi pengetahuan dan
tindakan. Berdasarkan inspeksi awal yang dilakukan oleh calon peneliti bahwa
dari jumlah siswa kelas XI 793 oarang tersebut memiliki latar belakang suku,
agama, dan sosial, berbeda yang bisa mempengaruhi pemahaman tentang HIV/AIDS
sehingga calon peneliti tertarik untuk meneliti Gambaran Pengetahuan siswa
tentang HIV/AIDS.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang
pemikiran di atas, maka rumusan masalah
yang ingin diangkat oleh penulis antara lain sebagai berikut:
“Bagaimana Gambaran
Pengetahuan siswa kelas XI Tentang HIV/AIDS di SMA Negeri 1 Sungguminsa ”
C.
Tujuan
Penelitian
1.
Tujuan
Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan siswa
kelas XI tentang HIV/ AIDS di SMA Negeri 1 Sunggumiasa
2.
Tujuan
khusus
a.
Untuk mengetahui gambaran
pengetahuan siswa kelas XI tentang penyebab HIV/ AIDS di SMA Negeri 1
Sungguminasa
b.
Untuk mengetahui gambaran
pengetahuan siswa kelas XI tentang gejala HIV/AIDS di SMA Negeri 1 Sunggumnasa.
c.
Untuk mengetahui gambaran
pengetahuan siswa Kelas XI tentang pencegahan HIV/AIDS di SMA Negeri 1 Sungguminasa.
d.
Untuk mengetahui gambaran
pengetahuan siswa Kelas XI tentang penularan HIV/AIDS di SMA Negeri 1
Sungguminasa
D.
Manfaat Penelitian
1.
Manfaat bagi peneliti
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat menambah pengalaman dan wawasan ilmu pengetahuan
tentang HIV/AIDS, serta dapat menyampaikan pada siswa siswi tentang HIV/AIDS.
2.
Manfaat bagi ilmiah
Hasil
penelitian diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran dalam rangka
pengembangan ilmu pengetahuan tentang HIV/AIDS.
3.
Manfaat bagi praktisi
Hasil
penelitian ini di harapkan dapat dijadikan informasi bagi pemerintah setempat dalam rangka penentuan arah
kebijakan tentang pengetahuan
4. Manfaat bagi institusi
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi bagi fakultas ilmu kesehatan
tentang HIV/AIDS.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Tinjauan Umum Tentang Remaja
1.
Defenisi
remaja
Remaja atau adolescence berasal dari bahasa latin “adolescere” yang berarti “tumbuh” atau
“tumbuh menjadi dewasa”. Istilah adolescence
yang berasal dari bahasa inggris, saat ini mempunyai arti yang cukup luas
mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik. Sedangkan Piaget mengatakan bahwa masa remaja adalah
usia dimana individu mulai berintegrasi dengan masyarakat dewasa. Individu
tidak lagi merasa di bawah tingkatan orang-orang yang lebih tua melainkan
berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak. Menurut
undang-undang No. 4 tahun 1979 mengenai kesejahteraan anak, remaja adalah
individu yg belum mencapai usia 21 tahun dan belum menikah. Namun menurut
undang-undang perburuhan, anak dianggap remaja apabila telah mencapai usia
16-18 tahun atau sudah menikah dan mempunyai tempat tinggal. Menurut
undang-undang perkawinan No.1 tahun 1974, anak dianggap sudah remaja apabila
cukup matang untuk menikah, yaitu usia 16 tahun untuk anak perempuan dan 19
tahun untuk anak laki-laki. Menurut WHO, disebut remaja apabila anak telah
mencapai usia 10-18 tahun. Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, masa remaja
umumnya berumur 16-19 tahun dan merupakan masa peralihan menuju kematangan
(dewasa). (Atikah proverawati 2009)
Remaja yang dapat
menghadapi dan memecahkan masalahnya dengan baik, maka hal itu merupakan modal
dasar dalam menghadapi masalah-masalah
selanjutnya sampai dewasa. Apalagi remaja itu seseorang yang beriman
kuat, yang dapat memecahkan berbagai problema yang di hadapannya. Itulah remaja
harapan agama, bangsa dan Negara. ( kamsinah 2011). Remaja yang demikian telah
dilukiskan dalam Al-Quran surat Al-Kahfi/18:13
Terjemahannya:
Kami kisahkan
kepadamu (Muhammad) cerita Ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah
pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambah pula untuk
mereka petunjuk.
1. Fase remaja
a. Fase remaja awal (usia 12 tahun sampai denga
15 tahun)
Pada masa ini individu mulai meninggalkan peran sebagai anak-anak dan
berusaha mengembangkan dir sebagai individu yng unik dan tidak tergantung pada
orang tua.
b. Fase remaja pertengahan (usia 15 tahun sampai
dengan 18 tahun)
Masa ini ditandai dengan
berkembangnya kemampuan berfikir yang baru. Teman sebaya memiliki peran yang
penting, namun individu sudah lebih mampu mengarahkan diri sendiri (self-directed).
c.
Fase
remaja akhir (usia 18 sampai dengan 21 tahun).
Masa ini ditandai oleh
persiapan akhir untuk memasuki peran-peran orang dewasa.
d.
Fase
pubertas, (usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 16 tahun).
Merupakan fase yang singkat
dan terkadang menjadi masalah tersendiri bagi remaja dalam menghadapinya.
(Atikah Proverawati dan Sitti Misaroh, 2009, 1-2).
2.
Proses
perkembangan kognitif pada remaja dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
a.
Pematangan/Maturasi
(Maturation), merupakan tumbuhnya
struktur-struktur fisik secara berangsur-angsur mempengaruhi perkembangan
kognitif, contoh pertumbuhan pusat susunan otak.
b.
Pengalaman
psikologis dan kontak dengan lingkungan (Exercise
through physical practice and mental experience). Kontak dengan lingkungan
akan mengakibatkan dua macam ciri pengalaman mental. Pertama adalah pengalaman
fisik, yaitu aktivitas yang dapat memberikan pengertian mengenai sifat yang
langsung berhubungan dengan objek.
c.
Transmisi
sosial dan pembelajaran (social
Interaction and Teaching). Berbagai macam stimulasi sosial (media massa,
lembaga sekolah, klub sosial, dsb) memiliki pengaruh yang positif dalam
perkembangan kognitif, sebab dapat memberikan banyak informasi, dan kemudian
melakukan suatu pembelajaran.
d.
Ekuilibrasi
(Equilibration), proses ini merupakan
suatu proses internal untuk mengatur keseimbangan diri dalam individu.
Integrasi dalam masyarakat mempunyai banyak aspek afektif, kurang lebih
berhubungan dengan masa pubertas, termasuk didalamnya juga perubahan
intelektual yang mencolok. Transformasi yang khas dari cara berpikir remaja
memungkinkan untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa. Pada
masa remaja terdapat tugas-tugas perkembangan yang sebaiknya dipenuhi. (Atikah
proverawati, 2009).
3.
Memahami
perubahan-perubahan psikologis serta kognitif pada remaja:
a.
Remaja
ditinjau dari sudut perkembangan fisik
Perubahan dramatis dalam bentuk dan cirri-ciri fisik berhubungan erat
dengan mulainya pubertas. Aktivitas kelenjar pituitari pada saat ini berakibat
pada sekresi hormon yang meningkat, dengan efek fisiologis yang tersebar luas.
Hormon pertumbuhan menghasilkan dorongan pertumbuhan yang cepat, yang membawa
tubuh mendekati fungsi optimum. Pencapaian kematangan seksual pada gadis remaja
ditandai oleh kehadiran menstruasi. Hormon-hormon utama yang mengatur perubahan
ini adalah estrogen pada wanita, zat-zat yang juga dihubungkan dengan
penampilan cirri-ciri seksual sekunder, rambut tubuh dan kelamin, pembesaran
payudara, dan pinggul lebih lebar pada wanita. Perubahan fisik dapat
berhubungan dengan penyesuaian psikologis, beberapa studi menganjurkan bahwa
individu yang menjadi dewasa di usia dini lebih baik dalam menyesuaikan diri
dari pada rekan-rekan mereka yang menjadi dewasa lebih lambat.
Perkembangan fisik pada masa remaja paling pesat di antara tahap-tahap
perkembangan manusia. Selain perubahan-perubahan fisik, remaja juga mengalami
perubahan secara psikologis. Perkembangan jiwa pada masa remaja juga semakin
mantap. Pada akhir masa remaja, jiwanya sudah tidak mudah terpengaruh serta
sudah mampu memilih dan menyeleksi. Remaja juga mulai belajar bertanggung jawab
pada dirinya, keluarga, dan lingkungan. (Atikah Proverawati, 2009).
Remaja mulai sadar akan dirinya sendiri dan tidak mau diperlakukan
seperti anak-anak lagi. Pada masa pra-remaja pertumbuhan lebih cepat dari pada
masa pra-sekolah.
b.
Pertumbuhan
tinggi badan, tulang dan gigi
Selama puberitas terjadi akselerasi pertumbuhan tinggi badan yang
mendadak yang disebut pacu tumbuh (Height
spurt). Pada saat pertumbuhan linier/tinggi badan terjadi pada kecepatan maksimal, dikatakan
remaja tersebut mengalami puncak kecepatan tinggi badan (peak Height Velocity/PHV)
c.
Pertumbuhan
berat badan
Bila asupan nutrisi dalam jumlah yang kurang optimal akan berdampak
pada perlambatan proses pertumbuhan dan perkembangan maturasi/pematangan
seksual. Sebaliknya bila asupan nutrisi terlalu berlebihan akan terjadi
percepatan proses pertumbuhan dan perkembangan seksual. Remaja membutuhkan
nutrisi lebih dibandingkan dengan pada waktu anak-anak. Kebutuhan nutrisi
mencapai puncaknya terutama pada saat pacu tumbuh mencapai maksimal.
d.
Pertumbuhan
organ reproduksi
Pertumbuhan organ reproduksi mengalami banyak perubahan pada masa
pubertas. Pada remaja perempuan tanda pubertas pertama pada umumnya adalah
pertumbuhan payudara, yaitu terdiri dari penonjolan puting disertai pembesaran
daerah areola (usia sekitar 8-12 tahun). Menstruasi pertama (Menarche) terjadi
pada stadium lanjut dari pubertas dan sangat bervariasi tiap individu
(rata-rata usia 10,5-15,5 tahun). Kemudian diikuti dengan pertumbuhan rambut
pada pubis ( usia 11-15 tahun).
Organ reproduksi pria terbagi atas organ
reproduksi eksternal dan organ reproduksi internal. Organ reproduksi
eksternal adalah skrotum dan penis. Sedangkan organ reproduksi eksternal
terdiri atas gonad yang menghasilkan gamet (sel-sel sperma) dan hormon,
kelenjar aksesoris yang menghasilkan produk yang esensial bagi pergerakan
sperma, dan sekumpulan duktus yang membawa sperma dan sekresi glandular. (Enhy
kusmiran, 2012)
e.
Perkembangan
intelektual
Tidak ada perubahan dramatis dalam fungsi intelektual selama masa
remaja. Kemampuan untuk mengerti masalah-masalah kompleks berkembang secara
bertahap. Masa remaja adalah awal dari tahap pikiran formal operasional, yang
mungkin dapat dicirikan sebagai pemikiran yang melibatkan logika pengurangan
atau deduksi. Tahap ini terjadi di semua orang tanpa memandang pendidikan dan
pengalaman mereka. Namun, bukti riset tidak mendukung hipotesis itu yang
menunjukkan bahwa kemampuan remaja untuk menyelesaikan masalah kompleks adalah
fungsi dari proses belajar dan pendidikan yang terkumpul. (Rusdin Sugianta
2008).
f.
Perkembangan
seksual
Perubahan fisik yang terjadi pada masa pubertas bertanggung jawab atas
munculnya dorongan seks. Pemuasan dorongan seks masih dipersulit dengan
banyaknya tabu sosial, sekaligus kurangnya pengetahuan yang benar tentang
seksualitas. Namun, sejak tahun 1960-an, aktivitas seksual telah meningkat
diantara remaja. Studi akhir menunjukkan bahwa hampir 50% remaja di bawah usia 15 tahun dan 75% di
bawah usia 19 tahun melaporkan telah melakukan hubungan seks. Terlepas dari
keterlibatan mereka dalam aktivitas seksual, beberapa remaja tidak tertarik
pada metode keluarga berencana atau gejala penyakit menular seksual (PMS).
(Vichy chapman, 2006)
g.
Perkembangan
emosional
Masa remaja sangat rawan dengan stress emosional yang timbul dari
perubahan fisik yang cepat dan luas yang terjadi sewaktu pubertas. Hal itu
dipandang sebagai perkembangan proses psiko-sosial yang terjadi seumur
hidup.Tugas psiko- sosial remaja adalah untuk tumbuh dari orang yang
tergantung, yang identitasnya memungkinkan mereka berhubungan dengan yang
lainnya dalam gaya dewasa. Kehadiran masalah emosional tersebut bervariasi pada
setiap remaja. Masa remaja (usia 12 sampai dengan 21 tahun) dikenal dengan masa
storm dan stress. Pada masa tersebut terjadi pergolakan emosi yang diiringi
dengan pertumbuhan fisik yang pesat dan pertumbuhan secara psikis.
h.
Perkembangan
psikososial dan kepribadian remaja kebebasan dan ketergantungan.
Dalam perkembangan menuju kedewasaan, remaja berangsur-angsur mengalami
perubahan yang membutuhkan kedua kemampuan, yaitu kebebasan dan ketergantungan
secara bersama-sama. Kebebasan (independence) adalah suatu kemampuan untuk
membuat keputusan dan mengatur perilakunya sendiri. Sifat remaja yang ingin
memperoleh kebebasan emosional, sementara orang tua masih ingin mengawasi dan
melindungi anaknya dapat menimbulkan konflik.
Melalui proses, remaja akan belajar untuk melakukan sesuatu secara
tepat, mengevaluasi kembali aturan-aturan, nilai dan batasan-batasan yang telah
diperoleh dari keluarga maupun sekolah. Pada awal usia remaja, perjuangan
kemandiriannya ditandai dengan perubahan dari sifat tergantung kepada orang tua
menjadi tidak tergantung. Ikatan emosional dengan orang tua menjadi berkurang.
Pada usia remaja pertengahan, ikatan dengan orang tua semakin longgar, mereka
lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman sebaya. Pada akhir masa remaja,
mereka akan berusaha mengurangi kegelisahan dan meningkatakan integritas
pribadinya, identitas diri lebih kuat, mampu menunda pemuasan, kemampuan untuk
menyatakan pendapat menjadi lebih baik, minat lebih stabil, dan mampu membuat
keputusan dan mengadakan kompromi.
i.
Perkembangan
kognitif
Perkembangan berpikir pada remaja tidak terlepas dari kehidupan
emosionalnya yang labil. Penentangan dan pemberontakan yang ditunjukkan dengan
selalu melancarkan banyak kritik, bersikap sangat kritis pada setiap masalah
menentang aturan menjadi suatu cirri mulai meningkatnya kemampuan berpikir
dengan sudut pandang yang mulai meluas pada remaja. (Atikah proverawati, 2009)
B. Tinjauan
Umum Tentang Pengetahuan
Berdasarkan kamus
bahasa Indonesia dijelaskan bahwa pengetahuan adalah mengetahui sesuatu segala
apa yang diketahui berkaitan dengan proses pembelajaran. Proses belajar ini
dipengaruhi berbagai faktor dari luar berupa sarana informasi yang tersedia
serta keadaan sosial budaya. (Soekidjo Notoatmodjo 2005)
Pengetahuan
adalah hasil penginderaan manusia atau hasil tahu seseorang terhadap objek
melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya).
Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera pendengaran
(telinga) dan indera penglihatan (mata). (Notoatmodjo, 2007)
Pengetahuan
atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan
seseorang seseorang (overt behavior).
Pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat yaitu:
1.
Tahu (know)
Tahu
diartikan sebagai suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk
kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengikat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang
spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah
diterima. Oleh sebab itu,
‘tahu’ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk
mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain; menyebutkan,
menguraikan, mendefenisikan, menyatakan, dan sebagainya. (Notoatmodjo,
2007)
2. Memahami (Comprehension)
Memahami
diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang
diketahui, dan dapat menginterpretasi materi tersebut secara benar. Orang yang
telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan
contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang
dipelajari.
3. Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang
telah dipelajari pada situasi atau kondisi rill (sebenarnya). Aplikasi disini
dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum, rumus, metode, prinsip, dan
sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
4. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu
objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur
organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5. Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan
kata lain, sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari
formulasi-formulasi yang ada.
6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi
berarti kemampuan untuk melakukan penelitian terhadap suatu materi atau objek.
Penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau
menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. (Notoatmodjo, 2007).
Pengetahuan yang dimiliki seseorang
dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:
1. Faktor
Internal
Faktor internal meliputi:
a.
Jasmani
Faktor jasmani di antaranya
adalah keadaan indera seseorang.
b.
Rohani
Faktor rohani di antaranya adalah kesehatan
psikis, intelektual, psikomotor, serta kondisi efektif.
2. Faktor Eksternal
Faktor
eksternal meliputi:
a.
Pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh
dalam memberikan respon terhadap sesuatu yang datang dari luar. Orang yang
berpendidikan tinggi akan memberikan respon yang lebih rasional terhadap
informasi yang datang dan akan berpikir sejauh mana keuntungan yang mungkin
akan mereka peroleh dari gagasan tersebut.
b.
Paparan Media Massa
Melalui berbagai media baik cetak maupun
elektronik berbagai informasi dapat diterima oleh masyarakat, sehingga
seseorang yang lebih sering terpapar media massa (TV, radio, majalah, dan
lain-lain) akan memperoleh informasi media massa. Ini berarti paparan media
massa mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang.
c.
Ekonomi
Dalam memenuhi kebutuhan primer maupun sekunder,
keluarga dengan status ekonomi baik lebih mudah tercukupi dibanding keluarga
dengan status ekonomi rendah. Hal ini akan mempengaruhi pengetahuan kebutuhan
akan informasi yang termasuk kebutuhan sekunder.
d.
Hubungan Sosial
Manusia adalah mahluk sosial dimana dalam
kehidupan saling berinteraksi satu sama lain. Individu yang dapat berinteraksi
secara kontinyu akan dapat lebih mendapatkan informasi. Sementara faktor
hubungan sosial juga mempengaruhi kemampuan individu sebagai komunikan untuk
menerima pesan menurut model komunikasi media.
e.
Pengalaman
Pengalaman seseorang individu tentang berbagai
hal biasa diperoleh dari lingkungan kehidupan dalam proses perkembangannya,
misalnya sering mengikuti kegiatan yang mendidik seperti seminar. (Satrio
dammar pahulu, 2011).
C.
Tinjauan umum tentang HIV/AIDS
1. Pengertian
secara umum tentang HIV
Secara umum HIV adalah virus
yang mengakibatkan AIDS. HIV adalah retrovirus RNA yang khususnya menyerang sel
limfosit T-helper (CD4) dan tipe sel lain. Perjalanan awal virus ini
menimbulkan sidrom virus pada bulann pertma, yaitu demam, nyeri otot, dan
limfadenopati. Replikasi virus yang cepat pada tahap ini menyebabkan CD4
menurun drastis dan muatan virus tinggi. Saat tubuh membentuk respons imun,
muatan virus menurun dan jumlah sel CD4 meningkat. Tubuh terus memproduksi sel
CD4 untuk mengganti sel yang mati akibat virus. Periode ini dapat berlangsung
sampai 10 tahun atau lebih. (Ralph C. Benson, 2008,)
Usia, jenis kelamin, penyalahgunaan obat, dan karakteristik virus mempengaruhi perjalanan penyakit. Pada
tahap lanjut HIV/AIDS, penurunan drastis hitung sel CD4 mencapai satu titik
tertentu yang membuat tubuh tidak mampu melindungi diri dari penyakit ringan
atau penyakit yang biasanya tidak menimbulkan infeksi pada manusia (infeksi
oportunistik). (Carolyn L.Gegor, 2005)
2. Pengertian
secara umum tentang AIDS
Secara umum AIDS atau Acquired Immuno Deficiency Syindrome merupakan
sydrome yang berupa kumpulan gejala
dan tanda penyait defisiency kekurangan immuno berarti kekebalan aqired di peroleh atau didapat. Dalam hal ini AIDS bukan penyait
keturunan tetapi penyakit virus HIV (Human
Imunodeficiency Virus) yang menghancurkan kekebalan tubuh manusia AIDS di
tularkan melalui seksual, transfuse darah,alat suntik dan ibu hamil mengidap
HIV kepada bayinya. (Wahyu Ika Wardani, 200, 164)
AIDS atau Sindrom Kehilangan
Kekebalan Tubuh adalah sekumpulan gejala penyakit yang menyerang tubuh manusia
sesudah sistem kekebalannya dirusak oleh virus HIV. Akibat kehilangan kekebalan
tubuh, penderita AIDS mudah terkena berbagai jenis infeksi bakteri, jamur,
parasit, dan virus tertentu yang bersifat oportunistik. Selain itu penderita
AIDS sering kali menderita keganasan, khususnya sarkoma kaposi dan limfoma yang
hanya menyerang otak. (Widoyono 2008, 84).
AIDS merupakan bentuk terparah
akibat infeksi HIV. Bila HIV telah membunuh sel T CD4+ hingga jumlahnya
menyusut hingga kurang dari 200 per mikroliter darah, maka kekebalan ditingkat
sel akan hilang, dan akibatnya adalah kondisi yang disebut AIDS. Tanpa
dilakukan terapi antretrovirus (Antiretroviral theraphy/ART), rata-rata
lamanya perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS adalah 9-10 tahun, dan rata-rata
waktu hidup setelah mengalami AIDS hanya
sekitar 9,2 bulan. Namun demikian, laju perkembangan penyakit ini pada setiap
orang sangat bervariasi. Tanpa penobatan, infeksi HIV mempunyai resiko 1-2%
untuk menjadi AIDS pada beberapa tahun pertama. Resiko terkena AIDS dala 10-11
tahun setelah terinfeksi HIV mencapai 50%. (Dorothy M.Russel, 2011)
Penyakit HIV/AIDS selain
ditimbulkan oleh mereka yang melanggar syari'ah agama (menyalahgunakan narkoba
dengan menggunakan jarum suntik dan sek yang tidak sehat) juga bisa karena
factor ketidak sengajaan. Misalnya: Istri yang baik-baik (shalihah) bisa
terkena HIV jika bergaul dengan suaminya yang suka melacur dan pelacurnya
terinfeksi HIV, atau seorang petugas kesehatan yang menggunakan jarum suntik
bekas digunakan menyuntik seseorang yang terinfeksi HIV, Dan masih banyak
factor lainnya. Oleh karena itu jalan yang paling baik untuk mencegah
tertularnya penyakit HIV/AIDS yang sangat menakutkan tersebut adalah dengan
menjahui perbuatan zina dan menyalahgunaan narkoba. Semoga kita semua
senantiasa diberi kekuatan oleh Allah swt., untuk menghindari perbuatan keji
dan munkar tersebut.
Ditemukan dari berbagai penelitian
epidemiologi menunjukan bahwa golongan wanita yang mulai mempunyai pasangan
seksual yang berganti-ganti pasangan lebih berisiko HIV. Sebab wanita yang
berganti-ganti pasangan akan rentan terkena virus HIV. Itulah sebabnya di dalam
QS. Al- Isra/ 17:32u
Terjemahanya:
Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina
itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk
Dalam ayat di atas larangan
zina sangat tegas, ini mengandung arti bahwa zina merupakan perbuatan yang
sangat keji dan akan mendatangkan mudharat. Oleh karena iu, segala erbuatan
zina harus dijauhi. Selain itu, terdapat dalam QS. Al-Mu’minun/ 23:5 yang
selanjutnya menyuruh kita untuk menjaga kemaluan kita artinya larangan untuk
mendekati zina.
Terjemahnya:
Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri
mereka atau budak yang mereka
miliki[994]; Maka Sesungguhnya mereka dalam hal Ini tiada terceIa.
Maksud dari ayat tersebut adalah budak-budak
belian yang didapat dalam peperangan dengan orang kafir, bukan budak belian
yang didapat di luar peperangan. dalam peperangan dengan orang-orang kafir itu,
wanita-wanita yang ditawan Biasanya dibagi-bagikan kepada kaum muslimin yang
ikut dalam peperangan itu, dan kebiasan Ini bukanlah suatu yang diwajibkan.
imam boleh melarang kebiasaan ini. Maksudnya: budak-budak yang dimiliki yang
suaminya tidak ikut tertawan bersama-samanya.
A. Penyebab
HIV/AIDS
Penyebab
timbulnya penyakit AIDS belum dapat dijelaskan sepenuhnya. Seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya bahwa virus HIVtelah ada di dalam tubuh sebelum munculnya penyakit AIDS ini. Namun
kenyataan bahwa tidak semua orang yang terinfeksi virus HIV ini terjangkit
penyakit AIDS menunjukkan bahwa ada faktor-faktor lain yang berperan di sini.
Penggunaan alkohol dan obat bius, kurang gizi, tingkat stress yang tinggi dan
adanya penyakit lain terutama penyakit yang ditularkan lewat alat kelamin
merupakan faktor-faktor yang mungkin berperan. Faktor yang lain adalah waktu,
Penelitian terakhir menunjukkan bahwa kesempatan untuk terkena AIDS meningkat,
bukannya menurun dikarenakan faktor waktu.
Seperti
telah dijelaskan sebelumnya bahwa HIV secara terus menerus memperlemah sistem
kekebalan tubuh dengan cara menyerang dan menghancurkan kelompok-kelompok
sel-sel darah putih tertentu yaitu sel T-helper. Normalnya sel T-helper
ini (juga disebut sel T4) memainkan suatu peranan penting pada pencegahan
infeksi. Ketika terjadi infeksi, sel-sel ini akan berkembang dengan cepat,
memberi tanda pada bagian sistem kekebalan tubuh yang lain bahwa telah terjadi
infeksi. Hasilnya, tubuh memproduksi antibodi yang menyerang dan menghancurkan
bakteri-bakteri dan virus-virus yang berbahaya.Selain mengerahkan sistem
kekebalan tubuh untuk memerangi infeksi, sel T-helper juga memberi tanda
bagi sekelompok sel-sel darah putih lainnya yang disebut sel T-suppressor
atau T8, ketika tiba saatnya bagi sistem kekebalan tubuh untuk menghentikan serangannya.
Biasanya kita memiliki lebih banyak sel-sel T-helper dalam darah
daripada sel-sel T-suppressor, dan ketika sistem kekebalan sedang
bekerja dengan baik, perbandingannya kira-kira dua banding satu. (Eka Nina.
2011).
Jika
orang menderita penyakit AIDS, perbandingan ini kebalikannya, yaitu sel-sel T-suppressor
melebihi jumlah sel-sel T-helper. Akibatnya, penderita AIDS tidak hanya
mempunyai lebih sedikit sel-sel penolong yaitu sel T-helper untuk
mencegah infeksi, tetapi juga terdapat sel-sel penyerang yang menyerbu sel-sel
penolong yang sedang bekerja.Selain mengetahui bahwa virus HIV membunuh sel-sel
T-helper, kita juga perlu tahu bahwa tidak seperti virus-virus yang
lain, virus HIV ini mengubah struktur sel yang diserangnya. Virus ini menyerang
dengan cara menggabungkan kode genetiknya dengan bahan genetik sel yang
menularinya. Hasilnya, sel yang ditulari berubah menjadi pabrik pengasil virus
HIV yang dilepaskan ke dalam aliran darah dan dapat menulari sel-sel T-helper
yang lain. Proses ini akan terjadi berulang-ulang. Virus yang bekerja seperti
ini disebut retrovirus. Yang membuat virus ini lebih sulit ditangani
daripada virus lain adalah karena virus ini menjadi bagian dari struktur
genetik sel yang ditulari, dan tidak ada cara untuk melepaskan diri dari virus
ini.Ini berarti bahwa orang yang terinfeksi virus ini mungkin terinfeksi seumur
hidupnya. Selain itu dapat berarti bahwa orang yang mengidap HIV dapat menulari
sepanjang hidup. Cara virus ini merusak fungsi sistem kekebalan tubuh belum
dapat diungkapkan sepenuhnya. Teori yang terbaru namun belum dapat dibuktikan
kebenarannya menyatakan bahwa rusaknya sistem kekebalan yang terjadi pada
pengidap AIDS mungkin dikarenakan tubuh menganggap sel-sel T-helpernya
yang terinfeksi sebagai “musuh”. (Widoyono, 2008)
Berbagai penyebab HIV/AIDS dapat ditularkan mealalui
darah yang terinfeksi, air mani atau cairan vagina yang memasuki tubuh.
Seseorang tidak dapat terinfeksi melalui kontak biasa seperti memeluk, mencium,
menari atau berjabat tangan dengan seseorang yang menderita HIV atau AIDS. (Eka Nina, 2011)
Penyakit HIV/AIDS sering
dikaitkan dengan perilaku sex yang salah, hal ini karena awalnya penyakit ini
dijumpai pada mereka yang melakukan praktek homoseksual, namun lama kelamaan,
penyakit ini mulai banyak mengenai para pengguna narkoba melalui alat suntik
yang mereka pakai.
AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah penyakit yang
mengakibatkan hilangnya kekebalan tubuh untuk mencegah terjadinya infeksi
penyakit. Penyakit AIDS disebabkan oleh Virus Human Immunodeficiency
(HIV) yang terjadinya
penurunan kekebalan tubuh pada manusia.
Selama seks Anda dapat terinfeksi jika Anda melakukan hubungan seks
vaginal, anal atau oral dengan pasangan yang terinfeksi yang darah, air mani
atau cairan vagina memasuki tubuh Anda. Virus ini dapat memasuki tubuh melalui
mulut atau air mata luka kecil yang kadang-kadang berkembang di dubur atau
vagina selama aktivitas seksual.
B.
Gejala
HIV/AIDS
AIDS merupakan manifestasi
lanjut HIV. Selama stadium HIV individu bisa saja merasa sehat dan tidak curiga
bahwa mereka menderita penyakit. Pada stadium lanjut, system imun individu tidak
mampu lagi menghadapi infeksi oportunistik dan mereka terus-menerus menderita
penyakit karena tubuhnya tidak mampu member pertahanan. Pada masa sekarang
tidak ada penyembuhan. (Vicky chapman, 2003, 223)
Sesudah terjadi inveksi virus
HIV, awalnya penderita tidak memperlihatkan gejala-gejla khusus.
· Beberapa minggu sesudah seseorang terinfeksi,
ia akan sering menderita penyakit ringan sehari-hari seperti demm,flu,diare,dan
rasa tidak enak badan yang berlangsung 3-14 hari.
· Pada periode 3-4 tahun kemudian penderita
tidak memperlihatkan gejala khas atau disebut sebagai periode tanpa gejala,
pada saat ini penderita merasa sehat dan dari luar juga tampak sehat.
· Sesudahnya tahun ke 5 atau 6 mulai tibul
diare berulang, demam yang hilang-timbul dan berkeringat terutama dimlam hari,
penurunan berat badan secara mendadak, lelah, anemia, sering sariawan di mulut,
dan terjadi pembengkakan di kelenjar getah bening dan pada akhirnya biasa
terjadi berbagai macam penyakit infeksi, kanker dan bahkan kematian. (Dorothy
M. Russel 2011)
Selain menimbulkan gejala, influenza, seperti demam, pusing, dan hidung
tersumbat, seseorang yang terinfeksi HIV juga mengalami beberapa gejala,
seperti batuk, penurunan berat badan, pembesaran kelenjar getah bening,
gangguan penglihatan, serta gangguan saraf otak. Para pecandu narkoba yang
terinfeksi HIV sering mengalami gejala tambahan, seperti penyakit kuning, sesak
nafas dan jantung berdebar-debar. Apabila jumlah sel T turun samapai 200 sel
permikroliter darah, orang yang terinfeksi HIV akan mengalami gejala-gejala
infeksi opertunistik dan kanker. (Sidartawan Soegondo 2008).
C. Pencegahan
HIV/AIDS
Program pencegahan penyebaran HIV
dipusatkan terutama pada pendidikan masyarakat mengenai cara penularan HIV,
dengan tujuan mengubah kebiasaaan orang-orang yang berisiko tinggi untuk
tertular. Cara-cara pencegahan tersebut adalah:
1. Untuk orang
sehat
Abstiens ( tidak melakukan hubungan seksual):
seks aman (memakai pelindung).
2. Untuk
penderita HIV positif
Abstinens seks aman tidak mendonorkan darah
atau organ, mencegah kehamilan, memberitahu mitra seksual sebelum dan sesudah
diketahui terinfeksi.
3. Untuk
pemakai obat-obatan (napza)
Menghentikan
penggunaan suntikan bekas atau bersama-sama,mengikuti program rehabilitasi
4. Untuk
professional kesehatan
Menggunakan sarung tangan lateks pada setiap kontak dengan cairan tubuh,
menggunakan jarum sekali pakai. (Ronald Hutapea 2011, 63). Bermacam-macam
vaksin sudah dicoba untuk mencegah dan memperlambat progresivitas penyakit, tapi
sejauh ini belum ada yang berhasil. Rumah sakit biasanya tidak mengisolasi
penderita penderita HIV kecuali penderita menghidap penyakit menular seberti
tuberkulosa. Permukaan-permukaan yang terkontaminasi HIV dengan mudah biasa
dibersihkan dan disucihamakan karena virus ini rusak oleh panas dan cairan
desinfektan yang biasa digunakan seperti hydrogen peroksida dan alcohol.
Untuk pencegahan terhadap infeksi HIV atau AIDS adalah sebagai berikut:
1. Pencegahan
penularan lewat hubungan seks.
a. Hubungan
seks monogami merupakan hal yang paling aman asalkan suami –istri tidak ada
yang terinfeksi
b. Hubungan
seks yang yang illegal atau luar nikah meningkatkan resiko.
c. Resiko
berkurang dengan memghindari hubungan seks dengan kelompok resiko tinggi
seperti laki-laki homoseksual atau biseksual, pemakai obat secara IV, pelacur
atau orang diketahui positif untuk antibody HIV.
d. Karena virus
terbawa dalam air mani, pemakaian kondom menurunkan resiko peularan.
D.
Penularan
HIV/AIDS
HIV masuk tubuh manusia terutama melalui
darah, semen dan secret vagina, serta transisi dari ibu ke anak. Dua cara penularan
HIV/AIDS adalah sebagai berikut:
b.
Hubungan
seksual, baik secara vagina, oral, maupun anal dengan seorang pengidap.
c.
Kontak
langsung dengan darah atau jarum suntik yang mengandung virus HIV.
Transfusi darah/produk darah
yang tercemar mempunyai resiko sampai >90%, ditemukan 3-5% total kasus
sedunia. Pemakaian jarum suntik yang tidak steril atau pemakaian bersama jarum
suntik dan spoitnya pada pecandu markotik berisiko 0,5-1% ditemukan 5-10% total
kasus sedunia. Penularan melalui kecelakaan tertusuk jarum pada petugas
kesehatan mempunyai resiko 0,5% dan mencakup <0,1% total kasus sedunia.
(Widoyono, 2008).
Cara penularan lain adalah
transmisi secara vertikal dari ibu hamil menghidap HIVkepada bayinya melalui
plasent. Resiko penularan dengan cara ini 25-40% dan terdapat <0,1% total
ksus sedunia. Setelah masuk ketubuh, virus menuju kekelenjar linve dan berada
dalam sel dendritik selama beberapa hari. Kemudian terjadi sindrom retroviral
akut seperti flu (serupa infeksi mononucleosis
).
Pada tubuh timbul respon imun
hormonal maupun selular. Sindrom ini akan hilang sendiri setelah 1-3 minggu.
Kadar virus yang tinggi dalam darah dapat diturunkan oleh sistem imun tubuh.
Proses ini berlangsung berminggu-minggu sampai terjadi keseimbangan antara
pembentukan virus baru dan upaya eliminasi oleh respons imun. Bila tinggi,
perjalanan penyakit menuju AIDS akan berlangsung lebih cepat. ( Wahyu Ika
Wardani, 2002).
BAB III
KERANGKA
KONSEP
A.
Dasar pemikiran Variabel Penelitian
Remaja merupakan generasi muda yang
akan menjadi pelaksana pembangunan dimasa yang akan datang. Sehingga dari
sekarang harus dibina remaja yang sehat dan baik mental maupun jasmaninya yang
betul-betul bisa menjadi generasi pembangun bangsa. Untuk mencapai hal tersebut
pengelola masalah kesehatan lebih diprioritaskan pada kegiatan promotif dan
prefentif termasuk upaya penanggulangan HIV/AIDS. (Matakristal, 2012).
Penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui gambaran pengetahuan siswa kelas XI
tentang HIV/AIDS di SMA Negeri 1 Sungguminasa.
·
Pengetahuan tentang penyebab HIV/AIDS
Penyebab timbulnya penyakit AIDS belum dapat
dijelaskan sepenuhnya, seperti yang telah dijelasakan sebelumnya bahwa virus
HIV telah ada di dalam tubuh sebelum muncul penyakit AIDS ini. Namun
kenyataannya bahwa tidak semua orang yang terinveksi virus HIV ini terjangkit
penyakit AIDS.
·
Pengetahuan tentang gejala HIV/AIDS
AIDS merupakan manifestasi lanjut HIV. Selama
stadium HIV individu bisa saja merasa sehat dan tidak curiga bahwa mereka
menderita penyakit. Pada stadium lanjut, sistem imun individu idak mampu lagi
menghadapi infeksi oportunistik dan mereka terus menerus menderita penyakit
karena tubuhnya tidak mampu member pertahanan. Pada masa sekarang tidak ada
penyembuhan. (Vicky chapman, 2003)
·
Pengetahuan tentang pencegahan HIV/AIDS
Program pencegahan penyebaran HIV
dipusatkan terutama pada pendidikan masyarakat mengenai cara penularan HIV,
dengan tujuan mengubah kebiasaaan orang-orang yang berisiko tinggi untuk
tertular.
·
Pengetahuan tentang penularan HIV/AIDS
HIV masuk
tubuh manusia terutama melalui darah, semen dan secret vagina, serta transisi
dari ibu ke anak.
C. Definisi Oprasional Dan Kriteria Objektif
1.
Pengetahuan tentang HIV/AIDS
Pengetahuan
yang dimaksud pada penelitian ini adalah pengetahuan responden mengenai
penyebab, gejala, pencegahan dan penularan HIV/AIDS yang diperoleh dari jawaban
kuesioner yang diberikan.
Kriteria objektif
a.
Tahu : bila
responden menjawab benar >50%
dari total skor pertanyaan tentang pengetahuan HIV/AIDS
b.
Tidak tahu : bila responden menjawab benar
≤50% total skor pertanyaan tentang pengetahuan HIV/AIDS
2.
Pengetahuan tentang penyebab HIV/AIDS
Pengetahuan
yang dimaksud pada penelitian ini adakah pengetahuan respondeng mengenai
penyebab HIV/AIDS yang diketahui melalui
jawaban-jawaban yng dikemukakan oleh responden dengan cara pengisian kuesioner.
Kriteria objektif
a. Tahu : bila responden
menjawab benar >50% dari total skor
pertanyaan tentang penyebab HIV/AIDS
b. Tidak tahu :
bila responden menjawab benar ≤50% total skor pertanyaan tentang penyebab
HIV/AIDS
3. Pengetahuan
tentang gejala HIV/AIDS
Pengetahuan
yang dimaksud pada penelitian ini adalah pengethuan responden mengenai gejala
HIV/AIDS yang diketahui melalui jawaban-jawaban yang dikemukakan oleh responden
dengan cara pengisian kuesioner. Kriteria
objektif
a.
Tahu : bila responden menjawab benar >50% dari total skor pertanyaan tentang gejala
HIV/AIDS
b.
Tidak tahu : bila responden menjawab benar
≤50% total skor pertanyaan tentang gejala HIV/AIDS
4. Pengetahuan
tentang pencegahan HIV/AIDS
Pengetahuan
yang dimaksud pada penelitian ini adalah pengethuan responden mengenai
pencegahan HIV/AIDS yang diketahui
melalui jawaban-jawaban yang dikemukakan oleh responden dengan cara pengisian
kuesioner. Kriteria objektif
a.
Tahu : bila responden menjawab benar >50% dari total skor pertanyaan tentang
pencegahan HIV/AIDS
b.
Tidak tahu : bila responden menjawab benar
≤50% total skor pertanyaan tentang pencegahan HIV/AIDS
5. Pengetahuan
tentang penularan HIV/AIDS
Pengetahuan
yang dimaksud pada penelitian ini adalah pengetahuan responden mengenai
penularan HIV/AIDS yang diketahui
melalui jawaban-jawaban yang dikemukakan oleh responden dengan cara pengisian
kuesioner. Kriteria objektif
a.
Tahu : bila responden menjawab benar >50% dari total skor pertanyaan tentang
penularan HIV/AIDS
b.
Tidak tahu : bila responden menjawab benar
≤50% total skor pertanyaan tentang penularan HIV/AIDS
BAB IV
METODE PENELITIAN
A.
Desain
Penelitian
Jenis
penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian diskriptif yang dilaksanakan
secara murni untuk mengadakan deskripsi tanpa dilakukan analisis yang mendalam
dan bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan siswa-siswi tentang
HIV/AIDS.
B. Lokasi Penelitian
1. lokasi Penelitian
Penelitian
ini dilakukan di SMA Negeri 1 Sungguminasa.
C.
Populasi
dan Sampel
1.
Populasi
Populasi adalah keseluruhan
objek penelitian atau objek yang diteliti dan memiliki sifat-sifat yang sama. Adapun
menjadi populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa-siswi kelas XI di SMA
Negeri 1 Sungguminasa priode 2013 adalah 793 siswa
2.
Sampel
Sampel merupakan sebagian populasi yang akan
diteliti atau sebagian jumlah dari karekteristik yang di miliki oleh populasi.
D.
Besar
Sampel
Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah
sebagian dari jumlah populasi siswa SMA Negeri 1 Sungguminasa dihitung dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:
N
1+n(d2)
N
: Besar populasi
n
: Besar sampel
d
: Tingkat kepercayaan/ ketepatan yang diinginkan
N
: 793
d
: 0,05 => d2 : 0,0025
N
1 + N (d2)
793
1 + 793 (0,0025)
793
1 + (1,98)
793
2,98
E.
Teknik pengambilan sampel
Pengambilan sampel dilakukan secara cluster random sampling
yaitu dengan mengambil sampel disetiap
kelas ( XI1-XI15 )
F.
Metode pengumpulan data
Dalam penelitian ini informasi yang diperlukan didaptkan
melalui data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data yang diperoleh
dengan cara kunjungan ke lokasi penelitian dan membagikan kuesioner untuk diisi
sendiri oleh responden. Kuesioner yang dibagikan berupa pertanyaan yang
menggali pengetahuan siswa-siswi tentang HIV/AIDS. Sedangkan data sekunder
adalah data yang telah tersedia sebelumnya sehingga peneliti tinggal mencari
dan mengumpulkan data tersebut.
G.
Metode pengolahan dan
analisis data
a.
Pengolahan data
pengolahan data dilakukan secara manual dengan menggunakan kalkulator,
data dikumpulkan melalui kuesioner dengan daftar pertanyaan pengetahuan dengan dua
alternative pilihan yaitu benar/salah dan untuk setiap jawaban, responden
deberikan penilaian dengan system “tanpa denda”
dengan formula rumus sebagai berikut:
keterangan S=R
S=
skor yang diperoleh
R=
jawaban yang diperoleh
b.
Analisa data
Analisa
dapat dilakukan dengan cara deskriptif dengan melihat presentase data yang
terkumpul dan disajikan tabel distribusi frekuensi kemudian dicari besarnya
presentase jawaban masing-masing responden dan selanjutnya dilakukan pembahasan
dengan menggunakan teori kepustakaan.
H.
Penyajian Data
a.
Editing
Memeriksa kembali kebenaran pengisian dengan tujuan
agar data yang masuk dapat diolah secara
benar sehingga pengolahan data dikelompokkan dengan menggunakan aspek
pengetahuan.
b.
Coding
Pemberian
nilai atau kode pada pilihan jawaban yang sudah lengkap, diberi skor (1) untuk
jawaban yang benar dan skor (0) untuk jawaban yang salah.
c.
Tabulating
Pengolahan dan penyajian
data dalam bentuk tabel deskriptif sederhana bertujuan untuk mempermudah
analisa data dan pengolahan data serta pengambilan kesimpulan, data dimasukkan
dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
- Hasil Penelitian
Pengumpulan data primer yang dilaksanakan selama
bulan terhitung mulai tanggal 19 Agustus 2013 – 22 Agustus 2013 terhadap siswa SMA Negeri 1 Sungguminasa. .
Proses yang dilakukan selama
penelitian berlangsung yakni membagikan kuesioner kepada siswa SMA Negeri 1 Sungguminasa untuk
memperoleh tujuan dari penelitian ini dan pengambilan data primer.
Pada penelitian ini jumlah
sampel yaitu 266 siswa. Penarikan sampel dilakukan secara cluster random
sampling yaitu seluruh siswa SMA Negeri 1 Sungguminasa dijadikan responden.
Hasil penelitian berupa data
telah diolah menjadi informasi sesuai dengan tujuan penelitian yang akan
dideskripsikan dalam bentuk tabel dan penjelasan. Data yang diperoleh dan dianalisis
secara univariat. Adapun hasil penelitian yang diperoleh adalah
sebagai berikut :
1.
Karakteristik
Responden
a. Umur
Tabel 5.1
Karakteristik Responden
Berdasarkan Umur
Di SMA Negeri 1 Sungguminasa
2013
Umur
(tahun)
|
Frekuensi
|
Persentase (%)
|
14
15
16
|
1
60
205
|
0.4
22.6
77
|
Jumlah
|
266
|
100
|
Sumber : Data Primer, 2013
Berdasarkan tabel 5.1 menunjukkan bahwa umur dari responden diketahui bahwa persentase umur siswa SMA Negeri 1
Sungguminasa terbanyak adalah 16 tahun
yaitu sebanyak 205 orang (77%), dan yang paling sedikit adalah kelompok umur 14
tahun sebanyak 1 orang (0.4%) serta kelompok umur 15 tahun
sebanyak 60 orang (22.6%). Responden terbanyak pada umur 16 tahun, dimana usia tersebut
merupakan usia Siswa SMA Negeri 1 Sungguminasa.
b. Jenis Kelamin
Tabel
5.2
Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Di SMA Negeri 1 Sungguminasa 2013
Jenis
Kelamin
|
Frekuensi
|
Persentase (%)
|
Laki-Laki
Perempuan
|
117
149
|
44
56
|
Jumlah
|
266
|
100
|
Sumber : Data Primer, 2013
Berdasaran jenis
kelamin bahwa jumlah siswa SMA Negeri 1 Sungguminasa dengan jenis kelamin pria sebanyak 117 orang (44%)
dan perempuan sebanyak 149 orang (56%). Hal ini disebabkan karena jumlah siswa perempuan lebih banyak dari pada jumlah siswa
laki-laki di SMA Negeri 1
Sungguminasa.
c.
pendidikan terakhir orang tua
Tabel 5.3
Karakteristik Responden
Berdasarkan Pendidikan Terakhir Orang Tua
Di SMA Negeri 1 Sungguminasa
2013
Pendidikan terakhir Orang Tua
|
Frekuensi
|
Presentase %
|
Sarjana
|
140
|
53
|
SMA
|
109
|
41
|
SMP
|
17
|
6
|
Jumlah
|
266
|
100
|
Sumber: Data Primer 2013
Berdasarkan tabel 5.3 menunjukkan bahwa pendidikan terakhir orang
tua dari responden diketahui bahwa persentase pendidikan terakhir orang tua
siswa SMA Negeri 1 Sungguminasa terbanyak adalah Sarjana yaitu sebanyak 140 orang (53%), dan
yang paling sedikit adalah SMP sebanyak
17 orang (6%) serta SMA 109 orang (41%).
Tabel 5.4
Karakteristik Responden
Berdasarkan Pekerjaan Orang Tua
Di SMA Negeri 1 Sungguminasa
2013
Pekerjaan Orang Tua
|
Frekuensi
|
Presentasi%
|
PNS
|
133
|
50
|
Wiraswasta
|
120
|
45
|
Petani
|
13
|
5
|
Jumlah
|
266
|
100
|
Sumber: Data Primer 2013
Berdasarkan tabel 5.4 menunjukkan bahwa pekerjaan orang tua dari
responden diketahui bahwa persentase pekerjaan orang tua siswa SMA Negeri 1
Sungguminasa terbanyak adalah PNS yaitu
sebanyak 133 orang (50%), dan yang paling sedikit adalah petani sebanyak 13
orang (5%) serta Wiraswasta 120 orang (45%).
2. Distribusi Variabel yang Diteliti
a. Pengetahuan siswa tentang HIV/AIDS
Data
proporsi tingkat pengetahuan responden mengenai HIV/AIDS dapat dilihat di tabel
berikut:
Tabel 5.5
Pengetahuan siswa tentang penyebab HIV/AIDS
Di SMA Negeri 1 Sungguminasa 2013
Tahu/ Tidak Tahu
|
Total
|
%
|
Tahu
|
261
|
98,12
|
Tidak Tahu
|
5
|
1,88
|
Jumlah
|
266
|
100
|
Sumber : Data
Primer 2013
Tabel 5.5
menunjukkan bahwa 261 responden (98,12%) memiliki pengetahuan tentang penyebab
HIV/AIDS yang baik.
Tabel 5.6
Pengetahuan siswa tentang
gejala HIV/AIDS
Di SMA Negeri 1 Sungguminasa 2013
Tahu/ Tidak Tahu
|
Total
|
%
|
Tahu
|
260
|
98
|
Tidak Tahu
|
6
|
2
|
Jumlah
|
266
|
100
|
Sumber: data primer 2013
Tabel 5.6 menunjukkan
bahwa 260 responden (98 %) memiliki pengetahuan tentang gejala HIV/AIDS yang
baik.
Tabel 5.7
Pengetahuan siswa tentang pencegahan HIV/AIDS
Di SMA Negeri 1 Sungguminasa 2013
Tahu/ Tidak
Tahu
|
Total
|
%
|
Tahu
|
246
|
92,5
|
Tidak Tahu
|
20
|
7,5
|
Jumlah
|
266
|
100
|
Sumber : Data Primer 2013
Tabel 5.7 menunjukkan bahwa 246 responden (92,5%)
memiliki pengetahuan tentang pencegahan HIV/AIDS yang baik.
Tabel 5.8
Pengetahuan siswa tentang penularan HIV/AIDS
Di SMA Negeri 1 Sungguminasa 2013
Tahu/ Tidak Tahu
|
Total
|
%
|
Tahu
|
212
|
79,7
|
Tidak
Tahu
|
54
|
20,3
|
Jumlah
|
266
|
100
|
Sumber ; Data Primer 2013
Tabel 5.8 menunjukkan bahwa 212 responden
(79,5%) memiliki pengetahuan tentang penularan HIV/AIDS yang baik.
B.
Pembahasan
Setelah dilakukan penyajian
dan pengolahan data beserta hasilnya, berikut ini dilakukan pembahasan sesuai
dengan variabel yang diteliti :
1.
Gambaran Karakteristik responden berdasarkan umur
Pertumbuhan dan perkembangan remaja dibagi menjadi tiga yaitu : remaja
awal dimulai dari usia 11-14 tahun, remaja tengah dimulai dari 14-17 tahun dan
remaja akhir dimulai dari usia 17-20 tahun. Umur responden pada penelitian ini
berkisar antara 14 tahun sampai dengan 16 tahun, dimana hasil penelitian
menunjukkan bahwa usia responden yang paling dominan pada saat ini adalah usia
16 tahun ( remaja tengah) sebanyak 205 orang (77%) . menurut Wong tahun 2004 ,
pada tahap remaja awal ini akan terjadi pertumbuhan yang meningkat cepat,
tampak karateristik seks sekunder. Pertumbahan ini menyebabkan tingkat laku
anak menjadi sangat kasar, canggung, kurang sopan, berbuat seperti anak liar
dan sebagainya.
Terjangkitnya seseorang dengan HIV tidak memandang umur, siapa pun juga
bisa menderita HIV/AIDS jika didukung oleh perilaku beresiko tinggi seperti,
berganti-ganti pasangan dalam melakukan
hubungan seksual, menggunakan jarum suntik secara bersama-sama (bergantian),
tidak menggunakan kondom dalam berhubungan seksual yang beresiko, dan kurangnya
pengetahuan akan HIV/AIDS khususnya cara penularannya.
Masa inkubasi AIDS adalh 5-10 tahun, penderita AIDS menurut kelompok umur
20-29 tahun sebanyak 54,76% dan kelompok terendah umur 5-14 tahun sebanyak 0,27
%, pada kelompok umur 15-19 tahun sebanyak 2,75%, (Depkes 2006). Sehingga mreka
diperkirakan terjangkit HIV pada usia 15-20 tahun.
Umur juga secara tidak langsung dapat mempengaruhi
pengetahuan dimana bertambahnya umur seseorang berarti
bertambah pula pengalaman tentang
berbagai hal, dimana pengalaman bisa menambah pengetahuan.
Dari uraian ini maka
dapat kita simpulkan bahwa bertambahnya umur orang dapat berpengaruh pada
pertambahan pengetahuan yang diperolehnya.
2.
Gambaran karakteristik
reponden berdasarkan jenis kelamin
Pada populasi penelitian ini, untuk jenis kelamin pada siswa yang
terbanyak adalah responden yang berjenis kelamin perempuan sebanyak sebanyak
149 responden dengan proporsi sebanyak 56% dan laki-laki 117 responden dengan
proporsi sebesar 44%. Dari hasil penelitian terlihat bahwa jenis kelamin
perempuan lebih banyak daripada jenis jenis kelamin laki-laki. Distribusi jenis
kelamin di SMA Negeri 1 sungguminasa lebih banyak di dominasi oleh jenis
kelamin perempuan. Saat ini responden masih tergolong pada usia remaja tengah.
Menrut wong tahun 2004, apabila dilihat dari pertumbuhan dan
perkembangannya maka akan terjadi hentakan-hentakan aktivitas baik pada anak
laki-laki maupun perempuan pada anak perempuan pada masa remaja awal ini
dicirikan dengan peningkatan aktivitas, hanya betuk dan isinya dari pada
aktivitas tersebut yang berada pada anak laki-laki dan anak perempuan.
Peningkatan aktivitas tersebut bukan
berarti peningkatan agresivitasi. Akan tetapi hal ini merupakan proses
intensifikasi dari pada daya adaptasi terhadap realita dunia serta usaha untuk
menguasi lingkungannya, juga untuk mengatasi kesulitan-kesulitan hidup.
Jenis kelamin dalam hubungannya dengan HIV/AIDS lebih mengarah kepada
pergaulan. Laki-laki cenderung lebih cepat terbawa dalam pergaulan lingkungan
luar seperti ajakan teman untuk merokok, narkoba, seks bebas. Semakin banyak
bergaul dengan lingkungan luar semakin tinggi tingkat pengetahuannya, tetapi
juga semakin berisiko pada hal-hal negative untuk ikut terbawa dengan
lingkungan yang berdampak pada kesehatan misalnya resiko tinggi untuk terkena
HIV/AIDS (Depkes RI, 2004; Siregar, 2004).
Ternyata kasus HIV/AIDS terbanyak terjadi pada jenis kelamin laki-laki
yang disebabkan penggunaan jarum suntik bersama/tercemar virus HIV pada
penyalahgunaan NAPZA suntik dan melalui hubungan heteroseksual dibandingkan
pada jenis kelamin perempuan. ( Depkes, 2007).
Profil kesehatan Indonesia 2003 (Depkes RI, 2006) menunjukan bahwa
penderita AIDS menurut jenis kelamin paling tinggi dalah laki-laki yaitu 82%
dan perempuan 16% sedangkan selebihnya 2% tidak diketahui jenis kelaminnya.
Salah satu perilaku berisiko yang menyebabkan tingginya HIV/AIDS adalah seks
bebas (Depkes RI,2002).
3.
Jenis pekerjaan Orang Tua Responden
Pekerjaan orang tua
responden yang paling mendominasi adalah PNS/TNI-ABRI/POLRI 133 orang (50%) ,
wiraswasta 120 orang (45%) dan petani 13 orang (5%). Hal ini menunjukkan bahwa
secara ekonomi orang tua remaja tergolong mampu untuk memfasilitasi anaknya
dalam memperoleh pengetahuan dari berbagai macam sumber informasi.
4.
Pendidikan Terakhir Orangtua Responden
Dari hasil penelitian
diketahui bahwa pendidikan terakhir orang tua remaja tergolong tinggi lulusan Sarjana 140 orang (53%), SMA 109 orang
(42%) dan SMP 17 orang (6%). Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin sadar
akan pentingnya pendidikan. Pendidikan orangtua turut medukung dalam memberikan
informasi akan pengetahuan tentang HIV/AIDS. Makin tinggi pendidikan orang tua,
maka pemahaman terhadap HIV/AIDS semakin baik sehingga orang tua dapat
memberikan informasi kepada anaknya tentang HIV/AIDS.
Orang tua lebih mungkin berbicara kepada anaknya mengenai
HIV/AIDS jika mereka merasa banyak mengetahui tentang HIV/AIDS ( Green,
1999)Sanitsuda Ekachai dalam bulletin Hindar AIDS No. 44 (Harahap, 2000)
mengatakan bahwa orang tua dan pihak sekolah harus bekerjasama dalam menghadapi
arus informasi melalui media yang cepat memberikan informasi seksual seperti
gambr-gambar pornigrafi dan cerita-cerita eksploitasi seksual.
5.
Pengetahuan siswa tentang HIV/AIDS di SMA Negeri 1
Sungguminasa
Penelitian satrio dammar pahulu 2011 mengungkapkan bahwa pengetahuan
yang dimiliki seseorang dipengaruhi oleh factor-faktor sebagai berikut:
a.
Faktor internal
-
Jasmani dan rohani
b.
Faktor eksternal
-
Pendidikan
-
Paparan media massa
-
Ekonomi
-
Hubungan social
-
Pengalaman
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting
untuk dikuasai, karena dengan mengetahui sesuatu, kita dapat menjadikan pedoman
untuk tindakan selanjutnya, pengetahuan siswa mengenai HIV/AIDS merupakan dasar
untuk pembentukan sikap mengenai HIV/AIDS. berikut peneliti akan membahas
gambaran pengetahuan siswa mengenai HIV/AIDS.
Pengetahuan responden mengenai penyebab HIV/AIDS pada penelitian ini baik yaitu sebanyak 98,12% (261), pengetahuan responden mengenai gejala HIV/AIDS pada penelitian ini baik
yaitu sebanyak 98% (260), pengetahuan responden mengenai pencegahan HIV/AIDS
sebanyak 92,5%(246) memiliki pengetahuan yang baik dan pengetahuan responden
mengenai penularan HIV/AIDS sebanyak 79,7%(212)memiliki pengetahuan yang baik.. Hal
ini menunjukkan bahwa responden sudah mengetahui
mengenai HIV/AIDS.
Menurut
Notoatmodjo bahwa pengetahuan merupakan domain yang sangat penting sebagaimana
kita ketahui bahwa pengetahuan merupakan hasil tahu dari tahu, dan ini terjadi
setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.
Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan,
pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia
diperoleh melalui mata dan telinga.
Pengetahuan
yang baik dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya faktor pendidikan
dimana pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan
kemampuan. Dengan pendidikan tinggi maka seseorang akan cenderung untuk
mendapatkan informasi. Semakin banyak informasi yang masuk semakin semakin
banyak pula pengetahuan yang didapat tentang kesehatan, kemudian pengalaman dimana semakin banyak pengalaman seseorang terhadap suatu
pengetahuan tertentu maka akan semakin banyak pengetahuan yang didapatnya.
Menurut Dalyono tahun 1997,
kurangnya informasi yang didapat oleh siswa berhubungan dengan berbagai
faktor,baik faktor internal (keluarga) maupun eksternal (sekolah dan lingkungan
sekitar). Faktor internal misalnya faktor keluarga, peran orang tua, guru, dan
teman sebaya (peer group), sangat mendukung dalam memberikan informasi pada
siswa mengenai HIV/AIDS dan secara khusus tentang cara pencegahan HIV/AIDS baik
berdiskusi secara langsung maupun melalui seminar-seminar kesehatan,
meningkatkan pengetahuan siswa tentang pencegahan HIV/AIDS maka diharapkan
siswa akan terhindar dari tertularnya HIV/AIDS.
1. Pengetahuan tentang penyebab HIV/AIDS
Tabel
5.5 menunjukkan bahwa 261 responden (98,12%) memiliki pengetahuan tentang
penyebab HIV/AIDS yang baik. Hal ini mendasari pengetahuan yang baik dapat
dipengaruhi oleh faktor,baik faktor
internal (keluarga) maupun eksternal (sekolah dan lingkungan sekitar). Faktor
internal misalnya faktor keluarga, peran oramg tua, guru, dan teman sebaya
(peer group), sangat mendukung dalam memberikan informasi pada siswa mengenai
HIV/AIDS dan secara khusus tentang cara penyebab HIV/AIDS baik berdiskusi secara langsung
maupun melalui seminar-seminar kesehatan, meningkatkan pengetahuan siswa
tentang pencegahan HIV/AIDS.
Menurut Erfandi (2009), ada
beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang yaitu pendidikan.
Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan
didalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan
mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah
orang tersebut untu menerima informasi. Dengan pendidikan tinggi maka seseorang
akan cenderung untuk mendapatkan informasi baik orang lain maupun media massa.
Semkin banyak informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang di
dapat tentang HIV/ AIDS. Sebagaimana diketahui kebanyakan siswa di SMA Negeri 1
Sungguminasa rata-rata orangtuanya berpendidikan dan hal ini juga menjadi salah
satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan terhadap HIV/AIDS.
Dari wawancara secara pribadi
dari beberapa siswa yang orangtuanya berpendidikan, mereka pun mendapatkan
informasi tentang HIV/AIDS dari orangtua mereka.Selain itu begitu banyak
informasi yang siswa dapatkan dari media massa terkait pengetahuan tentang
penyebab HIV/AIDS. Para siswa juga khawatir terinfeksi HIV/AIDS sehingga
berupaya mengetahui penyebab terjadinya HIV/AIDS.
2. Pengetahuan tentang gejala HIV/AIDS
Tabel 5.6 menunjukkan bahwa
260 responden (98,12%) memiliki pengetahuan tentang gejala HIV/AIDS yang baik.
Menurut
notoadmodjo (2007) gejala HIV/AIDS di bagi menjadi 2 yaitu gejala mayor dan
gejala minor. Gejala mayor yang timbul antara lain: berat badan menurun >
10% dalam 1 bulan, diare kronik yang berlangsung >1 bulan, penurunan
kesadaran dimensia/enselopati HIV ( gangguan motorik dan gangguan sensorik )
sedangkan gejala minor yang timbul antara lain: batuk menetap > 1 bulan,
depmatitis generalis ( reaksi inflamasi kulit terhadap ransangan unsure, fisik,
kimia, biologi) yang gatal, herpes zoster berulang, eandidosis orofaring
(infeksi jamur pada mulut dan dinding tenggorokan), herpes simplek kronis
progresif limpadenopati genorolis (pembesaran kelenjar limfe) dan infeksi jamur
berulang pada alat kelamin wanita.
Tabel
5.6 menunjukkan bahwa adanya tingkat kesadaran siswa untuk mengetahui gejala
HIV/AIDS sebab pengetahuan siswa tentang HIV/AIDS kategori baik. Hal ini
didasari proses pembelajaran disekolah tentang HIV/AIDS telah didapatkan,
informasi dari media massa dan teman dekat.
3. Pengetahuan tentang pencegahan HIV/AIDS
Tabel 5.7menunjukkan bahwa
246 responden (92,5%) memiliki pengetahuan tentang pencegahan HIV/AIDS yang
baik, lebih kecil dibandingkan pengetahuan tentang gejala dan penyebab.
Menurut astute (2008)ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan dalan pencegahan HIV/AIDS diantaranya mencegah penularan
melalui hubungan seksual, pencegahan penularan melalui darah, pencegahan
penularan melalui suntik dan alat yang dapat melukai kulit, pencegahan infeksi
melalui transfuse darah, dan pencegahan infeksi melalui penularan dari ibu ke
bayinya.
Adanya kesadaran siswa untuk mencegah HIV/AIDS dengan
mendapatkan informasi dari media massa dan teman serta pengetahuan tentang
pencegahan HIV/AIDS dari orangtua.
4. Pengetahuan tentang penularan HIV/AIDS
Tabel 5.8
menunjukkan bahwa 212 responden (79,7%) memiliki pengetahuan tentang penularan HIV/AIDS yang baik., merupakan variabel yang
paling rendah dari semua variabel yang diteliti. Hal ini menunjukan informasi
yang diterima oleh siswa tentang penularan HIV/AIDS masih sedikit.
BAB VI
KESIMPULAN DAN
SARAN
- Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan maka
dapat diambil kesimpulan sebagai berikut
1.
Pengetahuan siswa kelas XI tentang penyebab HIV/AIDS di SMA
Negeri 1 Sungnguminasa adalah 98,12% (261).
2.
Pengetahuan siswa kelas XI tentang Gejala HIV/AIDS di SMA
Negeri 1 Sungnguminasa adalah 98 % (260).
3.
Pengetahuan siswa kelas XI tentang pencegahan HIV/AIDS di SMA
Negeri 1 Sungnguminasa adalah 92,5 % (246).
4.
Pengetahuan siswa kelas XI tentang penularan HIV/AIDS di SMA
Negeri 1 Sungnguminasa adalah 79,7% (212).
B. SARAN
1.
Diharapkan untuk para siswa lebih memperhatikan lagi mengenai
kesehatan reproduksinya dan secara aktif mencari informasi mengenai HIV/AIDS.
2.
Diharapkan untuk para guru di sekolah hendaklah memberikan
edukasi masalah kesehatan reproduksi, terutama pencegahan dan penularan HIV/AIDS.
3.
Bagi peneliti diharapkan sebagai tindak
lanjut dari penelitian ini agar ada penelitian lanjutan mengenai
variabel-variabe lain yang mungkin berpengaruh terhadap HIV/AIDS.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an dan terjemahannya. Departemen Agama
RI. 2010. Bandung. CV. Penerbit J-ART
Atikah
Proverawati, “Menstruasi Pertama Penuh
Makna” Nuha Medika 2009
Benson, Ralph C. “Buku Saku Obstetri Dan
Ginekologi”. Edisi 9 Jakarta : EGC, 2008
Chapman
Vicky, “ Persalinan Dan Kelahiran “ Jakarta:EGC,
2006
Dorothy,
M Russel. “Bebas dari 6 penyakit paling mematikan” Yogyakarta: Medpres 2011.
Demim,
Sudarwan. Metode Penelitian Kebidanan. Jakarta
: ECG 2003.
Departemen
Kesehatan Repoblik Indonesia. “
Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia” 2003. (onlie) Diakses 03 juni 2013
Enhy
Retna Ambarwati. (http://azaxs.net/journal/2008/12aids-sex-bebas.htm) diakses
tanggal 22 mei 2013
Kementrian
Kesehatan Repoblik Indonesia, “Profil
Data Kesehatan Indonsia” Jakarta 2012 http://www.depkes.go.id 28 mei 2013
Kurniawati
Dian Ninuk, “ Asuhan Keperawatan Pada
Pasien Terinfeksi HIV/AIDS” Jakarta 2008
Kamsinah, “Problematika Remaja dan Pendidikan Seks” 2011
Lecture Notes. “Penyakit infeksi “ edisi keenam Jakarta; Erlangga, 2006
Mansjoer
Arif, “Evaluasi dan Tata Laksana di Bidang Ilmu Penyakit Dalam”. Jakarta
pusat, 2007.
Mansyoer,
Arif,. “ Kapita Selekta Kedokteran “. Edisi Keenam Jilid
kedua: Jakarta : Media Acsculapus, 2007
Notoadmojo,
Soekidjo. “ Metodologi Penelitian
Kesehatan “. Cet. 3. Jakarta: PT. Riineka cipta, 2005.
Purwaningsih,
Sri Sunarti dan widayatun “perkembangan
HIV/AIDS di Indonesia; ; tinjauan
Sasio Demografi” Jurnal Kependudukan Indonesia Vol. III. No. 2, 2008. (online)
Diakses 28 mei 2013
Ronald
Hutapea, “AIDS & PMS dn Pemerkosaan”
Rineka Cipta, Jakarta 2002
KEUSIONER
PENELITIAN
GAMABARAN
PENGETAHUAN SISWA KELAS XI TENTANG HIV/AIDS DI SMA NEGERI 1 SUNGGUMINASA TAHUN
2013
A. Identitas
Responden
Nama :
Umur :
Jenis
Kelamin :
Suku :
Alamat :
Nama
Orang tua :
a.
Ayah :
……………………………..
b.
Ibu :
……………………………..
Pekerjaan orang tua :
a.
Ayah :
……………………………..
b.
Ibu :
……………………………..
Pendidikan
orang tua :
a. Ayah : ……………………………..
b. Ibu : ……………………………..
Organisasi
yang pernah di ikuti :
……………………………...
Pernah
mendengar HIV/AIDS :
………………………...........
Jika
ya, informasi tentang HIV/AIDS di peroleh dari
: ( Media massa, teman, sekolah ) *
*
Coret yang tidak perlu
B. Pengetahuan
tentang penyebab HIV/AIDS
·
Jumlah pertanyaan yang diberikan
berjumlah 5 buah. Pilihlah jawaban yang menurut anda paling tepat.
·
Berilah tanda silang (X) pada huruf
a.
Benar
b. salah
1.
Yang diserang oleh HIV/AIDS itu adalah
sistem kekebalan tubuh
a. Benar
b. Salah
2.
HIV
merupakan virus penyebab AIDS
a. Benar
b. Salah
3.
HIV/AIDS dapat menular melalui pakaian
dalam
a.
Benar
b.
Salah
4. Virus
HIV/AIDS dapat ditularkan melalu darah, atau cairan vagina yang memasuki tubuh.
a.
Benar
b.
Salah
5. Penyakit
HIV/AIDS dapat menyebabkan kematian
a.
Benar
b.
Salah
C. Pengetahuan
tentang gejala HIV/AIDS
· Jumlah
pertanyaan yang diberikan berjumlah 5 buah. Pilihlah jawaban yang menurut anda
paling tepat.
· Berilah
tanda silang (X) pada huruf
a. Benar b. salah
1. HIV
mengalami beberapa gejala seperti batuk
dan penurunan berat badan.
a. Benar
b. Salah
2. Para
pemakai narkoba yang terinfeksi HIV
sering mengalami gejala tambahan seperti sesak nafas dan jantung
berdebar-debar.
a. Benar
b. Salah
3. Beberapa
minggu sesudah seseorng terinfeksi, ia akan sering menderita penyakit ringan
sehari-hari seperti demam, flu, diare dan rasa tidak enak badan.
a. Benar
b. Salah
4. Masa
masuknya Virus hingga timbulnya gejala 5-10
tahun
a. Benar
b. Salah
5. Penderita
HIV dapat terlihat seperti orang sehat
a. Benar
b. Salah
D. Pengetahuan
tentang pencegahan HIV/AIDS
· Jumlah pertanyaan yang diberikan
berjumlah 5 buah. Pilihlah jawaban yang menurut anda paling tepat.
·
Berilah tanda silang (X) pada huruf
a. Benar b. salah
1. Menggunakan
kondom jika melakukan hubungan seksual merupakan
cara menghindari HIV/AIDS
a. Benar
b. Salah
2. Cara
agar tidak tertular HIV/AIDS adalah menghindari berjabat tangan dengan penderita HIV/AIDS
a.
Benar
b.
Salah
3. Menghentikan
penggunaan suntikan bekas adalah cara untuk mencegah penyakit HIV/AIDS
a.
Benar
b.
Salah
4. Pemakaian
kondom menurunkan resiko penularan HIV/AIDS
a.
Benar
b.
Salah
5.
Pencegahan penyebaran HIV dipusatkan
terutama pada pendidikan masyarakat mengenai cara penularan HIV
a. Benar
b.
Salah
E. Pengetahuan
tentang penularan HIV/AIDS
·
Jumlah pertanyaan yang diberikan
berjumlah 7 buah. Pilihlah jawaban yang menurut anda paling tepat.
·
Berilah tanda silang (X) pada huruf
a. Benar b. salah
1. HIV/AIDS
dapat menular melalui transfusi darah
a. Benar
b. Salah
2. HIV/AIDS
dapat menular apabila kita makan bersama dengan penderita HIV
a. Benar
b. Salah
3. Penggunaan
jarum suntik secara bersama-sama dapat menularkan HIV
a. Benar
b. Salah
4. Gigitan
nyamuk dapat menjadi penularan HIV
a. Benar
b. Salah
5. Penularan
HIV/AIDS bisa hanya dengan bersentuhan kulit.
a. Benar
b. Salah

Comments
Post a Comment