Selamat pagi teman-teman pengguna setia Telkomsel. Kali ini kita akan bahas terkait layanan paket promo 4G ceria. Mungkin beberapa dari kalian pengguna setia telkomsel, masih belum tau tentang layanan paket ini, atau pernah dapat penawarannya tapi tidak bisa diaktifasi. Pertama perlu saya jelaskan terlebih dahulu terakit paket internet 4G ceria telkomsel, jadi paket ini merupakan paket promo yang hanya berlaku bagi pelanggan withlist telkomsel dengan pelbagai macam varian penawaran menarik, ada yang harga 10.000 dengan cakupan benefit kuota internet 2,5 GB 4G + 120 min onnet dan 200 sms onnet dengan masa aktif 7 hari. Harga 6000 dengan benefit kuota 20GB (17GB 4G + 3GB allnet ) + kuota telfon 30 menit onnet., dan pelbagai penawaran paket lainnya. Penawaran yang didapatkan tergantung dari rata-rata penggunaan bulanan, masa aktif penggunaan , dan tentunya tergantung dari kebijakan pihak telkomsel. Berkaca dari pengalaman sebelumnya, penawaran ini b...
Bawakaraeng, 15 Agustus 2017,
Malam itu langit
terasa dekat dipelupuk mata, liuk dedaunan bising seraya embun yang ikut menyelimuti
kami disepajang shalter ketujuh
Bawakaraeng. Tubuhku mulai kelelahan, carrier
60 Liter jadi tungganganku sedari tadi. Kami memutuskan untuk rehat sejenak. Dengan
nafas tak beraturan, kusandarkan tubuh ini dipepohonan sembari meneguk air yang
pun mulai menipis. Ada umpatan kata dibalik
keheningan kala itu, dibalik raut wajah yang coba terlihat tegar mesti hati
berkecamuk tajam. Diseberang jalur, tepat iya duduk dihadapanku, gadis tomboy
yang mengajarkanku banyak hal tentang alam. Ia tersenyum, sedikit mencibir, sesekali
menawarkan diri bertukar ransel denganku. Aku mengenal ia semasa bakhti kami
sebagai Mahasiswa. Ia tergolong perempuan yang smart dan kritis dihabitat (fakultas) nya. Hobynya hiking, beda dengan perempuan lain pada
umumnya.
Gimana’,
dah nyerah ? sautnya
Aku
terdiam,”. Ini kali pertama aku menapaki terjalnya Gunung bawakaraeng, dan diantara
shalter yang lain, shalter inilah yang
paling berat menurutku. Kami dihadapkan pada track yang curam kebawah
tanpa landai sedikitpun.
Ia kemudian menyalurkan
tangannya, membantuku berdiri sembari berkata “tahan, 15 menit lagi sampai kok ”.
Kufikir kalimat itu hanya guyonan, membuatku risih tak sabaran sepanjang jalan.
Selang beberapa menit, desiran air mulai bergemuruh, derap langkah kaki dan
bunyi alat-alat masak terdengar samar ditelinga. Aku menghela nafas panjang, setidaknya
didepan sana sudah ada tanda-tanda peradaban.
Kondisi dipelantaran
sungai cukup ramai, bahkan jalur pendakianpun ikut diembat. Kuletakkan ranselku disamping batu dekat telaga itu, aku
sedikit menapak ke atas, menyisir tempat datar, nyaman untuk kami dirikan kemah.
Kami memutuskan menginap di shalter ini.
Pukul 11:00 dingin
mulai menggerogoti kulit, kira-kira suhunya 4 hingga 6áµ’á´„. Disudut kemah, ia terlihat sibuk dengan
bahan-bahan logistic pengisi perut kami yang rada keroncongan. Sayur kacang, ikan kering, dan sambal terasi,
tergelepak nikmat diatas matras.
Ngopi dulu
yah gi’, sambil nunggu nasinya matang ? sautnya,
Gepulan asap beterbangan diantara
ampas-ampas kopi diitemani lagu cinta era orde baru karya sang mainstro Iwan Fals, keheninganpun pecah ketika
kami mulai terlibat diskusi kecil yang lebih intim. Hatiku deg-degan, butir-butir cinta yang kupendam selama ini nampak jelas
pula tersemat indah diwajahnya. Ada
perasaan sayang ingin memiliki seutuhnya, namun mulut serasa bungkam, nyaliku ciut, saat mata terlampau lama
menatapnya. Sengaja kopiku kuseduh perlahan, berharap waktu tak menggilas habis
kesempatan yang kutunggu bartahun lamanya
Wi’,
! aku biasa memanggil nama awalannya.
ada yang
ingin kuutarakan”. ia menghidari tatanpaku, hanya menggangguk sebisanya,
setelah diam beberapa saat.
Sebenarnya
selama ini aku ….
Aku apa
nggi’? balasnya dengan nada penasaran.
Aku ingin
bilang kalau aku, ….”,
aku, aku,
aku …. Kali ini iya agak kesal
aku suka
sama …..
ha’ ?
sekilas iya melirikku heran, tiba-tiba mata itu tertuju pada nesting tempat iya
menanak nasi.
Sepertinya
sudah matang, ngomongnya kita lanjut besok yah’, makan dulu, lapar banget.
Aku planga plongo, salah tingkahku dibuatnya, dalam hati berucap malu,
kesal, pembicaraan macam apa ini,tak berujung tak berpangkal. Pun setelah itu,
iya memilih tidur dibanding mendengar
rintihanku.
Bawakaraeng 16 Agustus 2017
Pagi
menjelang, awan-awan putih tergambar dilangit ketika mantari menunjukkan
sinarnya. Sentuhan embun diantara rimbunnya pepohonan mulai bergeser ke arah
yang lebih tinggi. Kubiarkan deret layu rambut panjangku tergelepar ditiup
sendi angin sang fajar. Didalamnya, iya masih tertidur pulas berbungkus esbe, wajahnya berseri ketika cahaya
masuk disela tenda yang kubuka. Sebahagian pendaki mulai sibuk mengemasi barang
bawaannya, ada yang memilih lebih dahulu berangkat ke puncak, ada pula yang
masih asik berselfia ria diatas bebatuan. Pagi itu tak banyak aktifitas
kulakukan. Kakiku masih kaku, aku mencoba menyalakan unggun semalam,
kupungutnya beberapa ranting, lalu kutaburkan spiritus agar mudah terbakar. Berapa kali mencoba akhirnya terbakar,
tetangga kemahpun berdatangan, bergemul menghatkan diri didepan unggun
kekuningan.
Pagi
mas’, ? saut pendaki lain
Pagi
…
Semalam
tiba jam brapa ?
Sekitaran
jam 10an malam mas, Digunung rame yah ?
Mm, iya
mas, hampir setiap tahun gunung ini ramai dipenuhi para pendaki dari pelbagai
daerah, niatnya yah buat kibarin sang saka merah putih. Pengalama pertama yah
mas ?
Iya,
hehe, dari sini berapa shalter lagi yang mesti dilewati ? tanyaku penasaran
2 , tapi
trackingnya lumanyanloh, paling cepet sampai puncak sekitar sejamanalah.
Barang
dibawa naik gak ? tanyaku.
Terserah
mas, kebanyakan sih pendaki lain memutuskan camp
disini aja, abis upacara balik lagi. Dipuncak dah rame soalnya, syukur-syukur kalau
masih dapat tempat. Belum lagi mata air
dipuncak biasanya keru kalau musim penghujan gini.
Iya baru saja bangun, dibasuhnya wajah
itu dengan air seadanya, iya terseyum padaku sembari berucap selamat pagi. Aku
merunduk berharap semoga iya lupa dengan obrolan semalam, konyol bagaikan
kura-kura dalam perahu, pura-pura malu padahal mau, seperti itulah kondisiku
saat ini. kami memutuskan menginap lagi di shalter ini, baru keesokan harinya
kami melanjutkan perjalanan kepuncak.
Bawakaraeng, 17 agustus 2017
Pukul
4:00 pagi, Setelah sarapan, kami berdua melanjutkan pendakian ke puncak Gunung
Bawakaraeng, barang kami tinggal di tenda, hanya kamera dan sedikit barang
penting lainnya yang kami bawa. Dua shalter berikutnya 9 dan 10 yang kesemuanya
didominasi oleh tanjakan-tanjakan curam menukik, gendang telinga sesekali
berdengung, bajuku sampai basah dipacu keringat yang bercucuran. Kabutpun semakin
pekat, pandangan kami mulai terbatas, beberapa pendaki terlihat mempercepat
langkahnya. Sekitar stengah jam berjalan sampailah kami di shalter ke 9. Disini
cukup nyaman, datar dan banyak pephononan berjejer beraturan, asik banget buat
ngehammock, sayangnya tak ada sumber mata air disini.
Semangat,
tinggal selangkah lagi, puncak Gunung Bawakaraeng kamu tapaki nggi’, tegur
dewi.
Mataku terbelalak melihat ratusan
orang dari pelbagai suku, agama, ras, dan usia berkumpul dititik ini, Puncak tertinggi
Gunung Bawakaraeng. 2883 mdpl dibawah tiang trigulasi aku bersujud berucap
syukur atas kesehatan dan keselamatan yang Tuhan berikan selama ini.
Perjuanganku menggapai puncak tak berakhir sia-sia. Negeri diatas awan,
akhirnya.
Tepat
Pukul 7:00 Sang saka Merah Putihpun dikibarkan, perasaan haru beberapa dari
kami hadir ketika lagu Indonesia Raya berkumandang. Aku tertunduk bangga
membayangkan perjuangan mereka para pahlawanku yang sangat berjasa atas bangsa
ini. Ku genggamnya bendera itu sangat erat, sangat erat, berurai air mata, sensasi
yang sangat luar biasa dan mungkin hanya sekali seumur hidupku.
“terima kasih wi’, terima kasih banyak mengajakku
ke tempat ini, tempat yang banyak mengajarkanku arti perjuangan dalam meraih”, tempat
berbagi luka dalam hati yang peluh
disepanjang perjalanan, tempat berbagi cerita disudut-sudut tenda malam itu wi’,
namun satu hal yang belum kuraih selama ini, kasihmu wi’, iya kasihmu, aku suka
sama kamu’, aku suka semua tentang kamu, aku, aku suka disaat matamu
memandangku, disaat pundakmu selalu ada untukku, aku ingin memilikimu bukan
sekadar teman atau sahabat, aku cinta kamu wi,”.
Suasana kala itu hening dibalik riaknya
nyanyian para pendaki lain, iya terdiam mendegar ucapanku, tak percaya. Hampir tak
sepatah katapun terucap dari bibir mungilnya. Akupun jua tak percaya, berani mengatakan hal
demikian, namun itulah nyatanya. Aku menegurnya,
Kenapa
wi’, kenapa diam ?
Maaf kalau
lancang, tapi itulah nyatanya. Akupun sebenarnya tak mampu lagi memendam rasa
ini. Toh kalaupun kamu tak ada perasaan jua, tak apalah, setidaknya aku sudah
jujur dengan perasaanku.
Nggak nggi’,
nggak ? sautnya dengan nada gemetaran.
Sebenarnya,
akupun merasakan hal yang sama.
Mendengar itu, aku berteriak
kegirangan, penantianku cukup lama akhirnya terbalaskan, satu lagi hal terindah yang tak mungkin bisa kulupakan, disinilah diketinggian 2883 mdpl tersimpan begitu banyak alasan orang lain menapakinya, ada yang sekadar mengaktualisasikan diri, ada pula yang lebih ke spritualisme, dan mungkin ada pula yang seperti saya.





Comments
Post a Comment