Selamat pagi teman-teman pengguna setia Telkomsel. Kali ini kita akan bahas terkait layanan paket promo 4G ceria. Mungkin beberapa dari kalian pengguna setia telkomsel, masih belum tau tentang layanan paket ini, atau pernah dapat penawarannya tapi tidak bisa diaktifasi. Pertama perlu saya jelaskan terlebih dahulu terakit paket internet 4G ceria telkomsel, jadi paket ini merupakan paket promo yang hanya berlaku bagi pelanggan withlist telkomsel dengan pelbagai macam varian penawaran menarik, ada yang harga 10.000 dengan cakupan benefit kuota internet 2,5 GB 4G + 120 min onnet dan 200 sms onnet dengan masa aktif 7 hari. Harga 6000 dengan benefit kuota 20GB (17GB 4G + 3GB allnet ) + kuota telfon 30 menit onnet., dan pelbagai penawaran paket lainnya. Penawaran yang didapatkan tergantung dari rata-rata penggunaan bulanan, masa aktif penggunaan , dan tentunya tergantung dari kebijakan pihak telkomsel. Berkaca dari pengalaman sebelumnya, penawaran ini b...
Perspektif
ilmu komunikasi berdasarkan aspek
epistemology,
ontology, dan aksiologi
Dalam
media sosial
(kajian
filsafat komunikasi)
A. Filsafat
Secara etimologi, kata
filsafat berasal dari bahasa Yunani, “philosphia”,
yang merupakan penggabungan dua kata yakni “philos”
atau “philein” yang berarti “cinta”, “mencinta”, atau “pecinta”,
serta kata “Sophia” yang berarti
“kebijaksanaan” atau “hikmat”. Dengan demikian, secara bahasa,
“filsafat” memiliki arti “cinta akan kebijaksanaan”. Cinta artinya hasrat yang besar
atau berkobar-kobar atauyang sungguh-sungguh. Kebijaksanaan artinya, kebenaran
yang sejati atau kebenaran yang sesungguhnya
Sedangkan secara epistemology,
terdapat ratusan rumusan pengertian “filsafat”. Namun secara mendasar, filsafat
adalah hasrat atau keinginan yang sungguh-sungguh untuk menemukan kebanaran
sejati.
Pengertian mengenai
filsafat dapat dipetakan menurut kronologi sejarah filsafat itu sendiri . Ada
beberapa defenisi mengenai filsafat dari berbagai ahli berdasarkan
kronologinya.
1.
Plato
(427-347 SM), mengatakan bahwa filsafat adalah mengkritik pendapat-pendapat
yang berlaku. Jadi kearifan atau pengetahuan intelektual itu di peroleh melalui
suatu proses pemeriksaan secara kritis, diskusi dan penjelasan.
2.
Aristoteles
(384-322 SM), menyatakan bahwa filsafat sebagai ilmu menyelidiki tentang hal
ada sebagai hal ada yang bebebda dengan bagian-bagiaannya yang satu atau
lainnya. Ilmu ini juga dianggap sebagai ilmu yang pertama dan terakhir, sebab
secara logis diisyaratkan adanya ilmu lain yang juga harus dikuasai, sehingga
untuk memahaminya orang harus menguasai ilmu-ilmu yang lain itu.
3.
Sir
Francis Bacon (1561-1626 M), menyebutkan bahwa filsafat adalah induk agun dari
ilmu-ilmu. Filsafat menangani semua pengetahuan sebagai bidangnnya.
4.
Rene
Descartes (1590-1650 M), menulis filsafat sebagai kumpulan segala pengetahuan
dimana Tuhan, alam, dan manusia menjadi pokok penyelidikannya
5.
Immanuel
Kant (1724-1804 M), menyampaikan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang
menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan tercakup dalam empat
persoalan, yakni:
a.
Apakah
yang dapat kita ketahui ? (jawabannya:metafisika)
b.
Apakah
yang seharusnya kita ketahui ? (jawabannya:etika)
c.
Sampai
dimanakah harapan kita ? (jawabannya:agama)
d.
Apakah
yang dinamakan manusia ? (jawabannya:antropologi).
6.
G.W.F
Hegel (1770-1831), menggambarkan filsfat sebagai landasan maupun pencerminan
dari peradaban. Sejarah filsafat karenanya merupakan pengungkapan sejarah
peradaban, dan begitu sebaliknya
7.
Herbert
Spencer (1820-1903), mengariskan filsafat sebagai nama pengetahuan tentang
generalitas yang tingkatannya paling tinggi.
8.
John
Dewey (1859-1952), mendefinisikan filsafat sebagai suatu pengungkapan mengenai
perjuangan manusia dalam melakukan penyesuaian kumpulan tradisi secara
terus-menerus yang membentuk budi manusia yang sesungguhnya terhadap
kecenderungan ilmiah dan cita-cita politik baru dan yang tidak sejalan dengan
wewenang yang diakui. Jadi filsafatmerupakan alat untuk membuat
penyesuaian-penyesuaian diantara yang lama dan yang baru dalam suatu kebudayaan
9.
Bertrand
Russel (1872-1970), mengakui filsafat sebagi suatu kritik terhadap pengetahuan.
Filsafat memeriksa secara kritis asas-asas yang di pakai dalam ilmu dan
kehidupan sehari-hari. Dan mencari suatu ketidakselarasan yang dapat terkadung
dalam asas-asas itu.
10. Louis O. Kattsoff (1963) di dalam
bukunya Elements of philosophy mengartikan
filsafat sebagai berfikir secara kritis, sistematis rasional, komprensif
(menyeluru), dan menghasilkan sesuatu yang runtut.
Berdasarkan uraian diatas,
dapat diartikan bahwa filsafat merupakan cara untuk memahami sesuatu. Karena,
pada saat mempelajari filsafat, kita dituntut untuk memamahami apa pun. Baik
pemahaman tentang sesuatu yang sudah ada maupun pemahaman akan sesuatu yang
mungkin dapat kita pikirkan.
Kata kunci untuk mencapai
kebenaran yang sejati adalah adanya pengetahuan. Dengan pengetahuan maka akan
terjadi persatuan antara subjek dan objek. Dengan kata lain, pada saat subjek
memilik pengetahuan mengenai objek, maka subjek dapat memasuki objek dan
jadilah kontak hubungan.
B. Filsafat
Komunikasi
Semua makhluk hidup pada dasarnya berkomunikasi.
Jangankan manusia yang diberkahi akal budi, binatang saja pada dasarnya
melakukan komunikasi dengan sesamanya. Komunikasi sebagai praktik sudah ada
diciptakaannya manusia, dan manusia menggunkan komunikasi dalam rangka
melakukan aktivitas sosialnya. Karenanya manusia tidak mungkin tidak
berkomunikasi.
Menurut Prof. Onong Uchjana Effendi (2003: 321), filsafat
komunikasi adalah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara lebih mendalam,
fundamental, metodologis, sistematis, analitis, kritis, dan kompherensif teori
dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidang, sifat,
tatanan, tujuan, fungsi, teknik, dan metode-metodennya.
Bidang komunikasi, meliputi komunikasi sosial,
organisasional, bisnis, politik, internasional, komunikasi antar budaya,
pembangungan, tradisional, dan lain-lain.
Sifat komunikasi, meliputi komunikasi verbal dan
nonverbal. Tatanan komunikasi, meliputi intrapribadi, antarpribadi, kelompok,
massa, dan media.
Tujuan komunikasi bisa terdiri soal mengubah sikap,
opini, perilaku, masyarakat, dan lainnya. Sementara itu, fungsi komunikasi
adalah menginformasikan, mendidik, mempengaruhi.
Teknik komunikasi terdiri dari komunikasi informatif,
persuasif, koersif, instruktif, dan hubungan manusiawi. Metode komunikasi
meliputi jurnalistik, hubungan masyarakat, periklanan, propaganda, perang urat
saraf, dan perpusatakaan.
Sehingga dengan demikian bisa dikatakan bahwa filsafat
komunikasi adalah ilmu yang mengkaji setiap aspek dari komunikasi dengan
menggunakan pendekatan dan metode filsafat sehingga didapatkan penjelasan yang
mendasar, utuh, dan sistematis seputar komunikasi.
Pemikiran filsafat komunikasi merupakan pemikiran yang
menyatu dengan pemikiran teori komunikasi. Beberapa tokoh yang menjadi pemikir
filsafat komunikasi adalah Richard L. Lanigan, Stephen Littlejohn, Whitney
R.Mundt.
C. Perspektif
ilmu komunikasi
Terdapat empat perspektif ilmu komunikasi yaitu:
perspektif mekanistik, psikologi, interaksional, dan pragmatis.
1.
Perspektif
mekanistik
Perspektif mekanistik menekankan pada
unsur saluran fisik komunikasi, penyampaian dan penerimaan arus pesan diantara
sumber atau para penerimanya.
Perspektif
ini memfokuskan perhatiannya pada saluran, maka pengkajian dan penyusunan
komunikasipun berfokus pada saluran sebagai tempat untuk mencari fenomena
komunikatif.
Model mekanistik secara tegas menyatakan
adanya hubungan linier antara para komunikator. Saluran yang bertinda
menghubungkan sumber atau penerima jelas mempunyai arah. Pesan mengalir dari
satu orang kepada orang lain pada arah tertent, memberikan dampak pada ujung
penerimaan.
Citra komunikasi yang mekanistik
mengemukakan kiasan mesin sebagai analogi atau model proses komunikasi.
Walaupun pengertian kegagalan komunikasi bukanlah suatu hal yang unik bagi
perspektif mekanistik, namun konsep itu barangkali berasal dari cara berfikir
mekanistik dan masih banyak memberikan arah pada konseptualisasi secara popular
tentang komunikasi manusia.
Visualisasi model mekansitik sebagai ban
berjalan memberikan gambaran yang jelas tentang isyarat pesan yang mengalir
sepanjang ban dalam arus yang konstan, terarah dan berputar. Akan tetapi,
sebagaimana halnya dengan ban berjalan, mesin dapat rusak dan berhenti
berfungis. Karena itu, dalam aliran pikiran yang mekanistik ini, komunikasi
berhenti dengan adanya kerusakan yang sering disebut kegagalan komunikasi.
2.
Perspektif
psikologis
Persepektif psikologis tentang komunikasi
massa menfokuskan perhatiannya pada individu (komunikator) baik secara teoritis
maupun empiris. Secara lebih spesifik lagi, yang menjadi focus utama dari
komunikasi adalah mekanisme internal penerimaan dan pengolahan informasi.
Manusia yang sedang berkomunikasi
tidak hanya menerima stimulus akan tetapi ia pun menghasilkan stimulus. Sama
sebagaimana halnya dengan konsep sumber atau penerima dalam model mekanistik,
dalam model psikologis manusia ditandai sebagai makhluk yang memiliki fungsi
ganda menghasilkan dan menerima stimulus.
Ketika audiens menyerap stimulus,
secara otomatis mengolahnya melalui berbagai filter konseptual. Filter ini
merupakan keadaan internal manusia. Filter ini tidak dapat diamati secara
langsung sebagai keadaan internal, akan tetapi dianggap sangat memengaruhi
peristiwa komunikatif.
3.
Perspektif
interaksional
Perspektif interaksional menunjukkan
pandangan komunikasi manusia yang telah berkembang secara tidak langsung dari
cabang sosiologi yang dikenal sebagai interaksi
simbolis. Perspektif interaksional menonjolkan keagungan dan nilai individu
diatas nilai pengaruh yang lainnya. Manusia dalam dirinya memiliki esensi
kebudayaan, bersosialisasi dengan masyarakat, dan menghasilkan buah pikiran
tertentu. Tiap bentuk interaksi sosial itu dimulai dan berakhir dengan
mempertimbangkan diri manusia.
Perspekti interaksional memungkinkan
individu untuk melihat dirinya sendiri sebagaimana orang-orang lain melihatnya.
Supaya menjadi objek penafsiran diri, maka diri harus meninggalkan dirinya
untuk melakukan penafsiran itu. Yakni, individu mengasumsikan proses penafsiran
orang lain itu agar dapat menentukan dirinya sendiri. Jadi si individu tersebut
pengambil peran orang lain diluar dirinya dan terlihat dalam penafsiran persis
seperti apa yang ia lakukan terhadap setiap objek, baik fisik maupun sosial.
4.
Perspektif
prgamatis
Perspektif
pragmatis menyajikan alternative paradigma yang sangat berbeda dengan tiga
perspektif sebelumnya. Komponen-komponen khas dalam perspektif pragmatis
dimulai dengan perilaku orang-orang yang terlibat dalam komunikasi. Karena itu
satuan komunikasi yang paling mendasar adalah tindak perilaku yang dijalankan
secara verbal atau non verbal oleh peserta komunikatif.
Sepanjang waktu pola interaksi itu dapat
dipengaruhi oleh perubahan. System komunikasi dapat mengubah pola interaksi
yang khas dan perubahan itu secara empiris dapat diketahui melalu pencatatan
perubahan dalam pola yang redundan dari interaksi ganda.
D. Media
massa (komunikasi massa)
Komunikasi massa dapat dijelaskan dari cara pandang,
yakni bagaimana orang memproduksi pesan dan menyebarkannya melalu media di satu
pihak, dan bagaimana orang-orang mencari serta menggunakan pesan-pesan tersebut
di pihak lainya.
Secara umum penggunaan, komunikasi massa disamping untuk
menjalankan fungsi untamanya seperti member informasi dan hiburan, juga
dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan khusus, misalnya media dakwah.
Media komunikasi merupakan sarana utama dalam system
komunikasi massa. Menurut DeVito (1997), komunikasi massa dapat didefenisikan
dengan memusatkan perhatian pada unsur-unsur yang terlibat dalam tindakan
komunikasi dan mengaitkannya dengan operasional media massa. Unsur-unsur yang
dimaksud adalah sumber, khalayak, pesan, proses, dan konteks.
Jenis media massa terbagi menjadi tiga, yakni: media
cetak, media eletronik dan media online.
a.
Media
cetak
1.
Media
cetak merupakan inovasi teknologi yang sangat besar pengaruhnya bagi industry
komunikasi massa dalam melayani kebutuhan public akan informasi dan hiburan.
Media cetak berkompetisi dengan media elektronik dan internet menjalankan tugas
sosialnya dalam meningkatkan pelayanan informasi dan memaksimalkan kemampuannya
dalam mendorong perubahan-perubahan sosial budaya yang lebih produktif.
2.
Media
cetak merujuk pada jenis media massa yang tercetak, yakni buku, surat kabar,
dan majalah.
3.
Media
cetak memiliki karakteristik yang khas, yakni: (1) publisitas; penyebaran pesan
kepada publik, (2) Periodesitas; keteraturan terbit, (3) Universalitas;
menyampaikan pesan yang beragam, dapat diakses secara umum, (4) Aktualitas
kini, untuk setiap media bersifat relative Karena tergantung periodesitas media
misalnya surat kabar pagi, surat kabar sore, dsb., (5) Terdokumentasi; bisa
diarsip, (6) Faktualisasi; sesuai dengan fakta.
b.
Media
elektronik
Media
komunikasi massa elektronik dapat dibedakan menjadi dua yaitu: televise dan
radio. Media elektronik televise mempunyai perbedaan mencolok dengan media
cetak. Fokus perbedaannya tidak hanya berkaitan denga sifat pemberitaannya,
tetapi juga penggunaan visual yang dominan. Televise adalah jenis media massa
yang lebih mengandalkan gambar dari pada unsure lainnya. Visual televise
menggerakkan gambar untuk melengkapi teks seperti dalam surat kabar sehingga
sajian televise terkesan lebih lengkap dan hidup.
Sedangkan,
radio adalah teknologi yang memungkinkan pengiriman sinyal oleh modulasi
gelombang elektromaknetik. Gelombang ini melintas lewat udara dan juga
kevakuman angkasa, gelombang ini tidak memerlukan medium pengangkutan.
Gelombang radio adalah satu bentuk dari radiasi elektromagnetik, dan terbentuk
ketika objek bermuatan listrik dipercepat dengan frekuensi yang terdapat dalam
frekuensi radio dalam spectrum elektromagnetik.
c.
Media
online (internet)
Internet
merupakan sarana komunikasi yang berkembang begitu pesat. Walaupun penetrasinya
masih terbatas, namun perkembangannya menunjukkan grafik yang memuaskan. Sifat
internet yang real time dengan audiens yang tak terbata menjadikannya sebagai
garda terdepan pembentukan masyarakat informasi. Bahkan informasi yang bersifat
rahasia pun terkadan justru tersebar melalui internet.
E. Kajian
aspek epistemologi dalam media sosial
Epistemologi merupakan cabang filsafat yang mempelajari
pengetahuan, atau bagaimana sesorang mengetahui apa yang mereka klaim sebagai
pengetahuan. Karena keanekaragaman disiplin yang ada dalam studi komunikasi dan
juga akibat perbedaan pemikiran, maka isu-isu epistemologi menjadi penting.
Epistemologi pada hakikatnya menyangkut asumsi mengenai hubungan antara
peneliti dan yang diteliti dalam proses untuk memperoleh pengetahuan mengenai
objek yang diteliti.
Asumsi-asumsi yang dimaksud, mencakup tiga gagasan yang
saling terkait bahwa: (a) ilmu pengetahuan bisa diperoleh melalui pencarian
akan relasi kausal dan keteraturan antara berbagai komponenen dunia sosial; (b)
relasi kausal dan keteraturan tersebut bisa ditemukan bila ada pemisahal total
antara penyeledik dan subjek yang ditelitinya; serta (c) pemisahan ini dapat
terjamin melalui penggunaan metode ilmiah.
Sebagai institusi sosial, media sosial berperan penting
dalam menyebarkan informasi kepada khalayaknya. Disamping informasi, media juga
memberikan layanan hiburan dan berbagai bentuk lainnya. Masyarakat mengomsumsi
media sesuai dengan jenis dan tingkat kebutuhannya.
Dalam berita (informatif), hal terpenting adalah fakta.
Pada titik yang paling inti dalam setiap pesannya pelaporan jurnalisme mesti
membawa muatan fakta. Setiap kepingan informasi mengimplikasikan realitas
peristiwa kemasyatakatan. Tiap pesan menjadi netral dari kemungkinan buruk
penafsiran subyektif yang tak berkaitan dengan kepentingan–kepentingan
kebutuhan masyarakat. Charnley (1965 : 22.30) mengungkapkan kunci standardisasi
bahasa penulisan yang memakai pendekatan ketepatan pelaporan faktualisasi
peristiwa, yaitu akurat, seimbang, obyektif, jelas dan singkat serta mengandung
waktu kekinian.
Isu-isu sosial dalam media massa berkenaan dengan
komunikasi yang menimbulkan proses saling mempengaruhi antara individu,
individu dengan kelompok, dan antar kelompok. Hal ini berkaitan dengan,
bagaiamana interaksi dilakukan dengan menggunakan media, bagaimana efek media
sebagai akibat interaksi sosial, bagaimana perubahan sosial yang terjadi di
masyarakat, dan konsekuensi sosial seperti apa yang ditanggung masyarakat
sebagai akibat perubahan sosial yang didorong media massa.
Media massa dapat memberi kontribusi bagi interaksi dan
kehidupan sosial, namun media massa juga dapat member pengaruh secara difunsional.
Akibat tidak adanya kesepahaman dalam memperoleh
informasi, maka persepsi publik akan berbeda satu sama lain dan akan memicu
bias secara epistemologi. Disatu sisi, ada pihak yang mengganggap (persepsi)
efektivitas pemberitaan media sosial berdampak buruk bagi mereka dan disisi
lain menganggapnya positif.
Dengan demikian, epistemologi senantiasa
mendorong manusia sebagai pelaku persepsi atau penerima dampak media sosial
untuk senantiasa berfikir kritis mengenai pemberitaan, informasi dan
sebagainya. Bahwasanya, apakah konten atau isi maupun pesan media sebagai
sarana komunikasi memberikan dampak baik atau buruk terhadap perilaku, persepsi
maupun opininya sendiri.
F. Kajian
aspek ontologi dalam media sosial
Ontologi adalah cabang filsafat
mengenai sifat (wujud) atau lebih sempit lagi sifat fenomena yang ingin kita
ketahui. Dalam ilmu pengetahuan sosial ontologi terutama berkaitan dengan
eksistensi manusia. Menurut Stephen Litle John, ontologi adalah
mengerjakan terjadinya pengetahuan dari sebuah gagasan kita tentang realitas.
Bagi ilmu sosial ontologi memiliki keluasan tentang eksistensi kemanusiaan
sedangkan dalam ilmu komunikasi, ontologi menfokuskan pada pemahaman hakikat
interaksi sosial manusia.
Pandangan ontologis dalam ilmu
komunikasi menganggap realitas sosial hadir dalam beragam bentuk konstruksi
mental, berdasarkan pada situasi sosial dan pengalamannya, bersifat lokal dan
spesifik, kemudian bentuk dan formatnya bergantung pada orang yang
menjalaninya.
Media
dalam banyak hal memiliki kekuatan yang besar dalam mempengaruhi publik.
Pengaruh tersebut bisa jadi datangnya dari kebijakan redaksi atau proses framing yang dilakukan oleh wartawan.
Media
sosial membuat ragam rubrik atau program khusus yang dapat mempengaruhi
persepsi audien. Misalnya, acara khusus mengenai politik. Penyediaan segmen
khusus liputan tentang isu-isu politik bermaksud memberikan rincian yang mendalam mengenai perkembangan politik
yang berlangsung.
Hampir setiap harinya pemberitaan yang
mengangkat wacana-wanaca politik menghiasi pemberitaan media massa, baik itu
cetak, elektronik, dan online. Melalui pesan-pesan media, berbagai macam
informasi mengenai politik seperti pemilu, program-program partai, wawancara
dengan elit-elit parpol, pakar politik, iklan politik dan seterusnya menjadi
konsumsi dan pengetahuan bagi publik.
Misalnya, penggunaan media sosial
untuk tayangan iklan politik. Iklan-iklan partai politik disaksikan setiap
harinya melalu televise, radio, media cetak, dan media online. Iklan politik
ini menawarkan program-program kerja dan mengajak khalayak untuk memilih atau
bersimpati terhadap kandidat ataupun partai politik tertentu. Pencitraan partai
politik dan tokoh politik melalu iklan semakin memperkuat fungsi media massa
dalam aktivitas politik.
Secara subtansial, iklan-iklan politik
di media massa berusaha mengajak langsung calon pemilih (khalayak) untuk
memilih partai politik atau kandidat tertentu. Melalui media massa, para
kandidat politik atau partai politik mengungkapan program-program yang ditawarkannya.
Penggunaan media massa sebagai sarana media kampanye politik akhirnya
diharapkan dapat menggerkaan perilaku pemilih. Dengan demikian hal tersebut
memaksa audien mempersepsi realitas politik yang disusun oleh media sosial.
Fenomena pemberitaan politik terkait
isu-isu hangat yang dikemas sedemikian rupa dan mampu mempengaruhi persepsi
publik ini, membuat efektivitas penggunaan media massa sangatlah berpengaruh.
Gecarnya media massa dalam memberikan isu-isu politik secara umum membuktikan
bahwa media mempunyai pengaruh begitu besar dalam mengangkat peristiwa atau isu
menjadi agenda media dalam menarik perhatian publik dengan menonjolkan isu-isu
politik untuk dapat mempengaruhi persepsi publik.
G. Aspek
aksiologis dalam media sosial
Aksiologi adalah cabang filsafat yang ingin merefleksikan
cara bagaimana menggunakan ilmu pengetahuan diperoleh, lanigan berpendapat
bahwa aksiologi adalah studi etika dan estetika. Kata Aksiologi berasal dari
Yunani, yaitu axion yang artinya nilai dan logos yang artinya ilmu. Dengan
demikian, aksiologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang nilai-nilai etika.
Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa aksiologi adalah
kajian tentang nilai manusiawi dan bagaimana cara mengekspresikannya.
Dalam hubungannya dengan filsafat komunikasi, Lanigan
mengatakan bahwa aksiologi, kategori keempat dari filsafat, merupakan studi
etika dan estetika. Ini berarti, aksiologi adalah suatu kajian terhadap apa itu
nilai-nilai manusiawi dan bagaimana cara melembagakannya.
Etika sering disebut filsafat moral. Etika merupakan
cabang filsafat yang bebicara mengenai tindakan manusia dalam kaitannya dengan
tujuan utama hidupnya. Etika membahas baik-buruknya atau benar-tidaknya tingkah
laku dan tindakan manusia serta sekaligus menyoroti kewajiban-kewajiban manusia.
Etika mempersoalkan bagaimana manusia harus berbuat atau bertindak.
Sedangkan estetika, mempermasalahkan seni atau keindahan
yang diproduksi manusia dan juga estetika berkaitan dengan imitasi atau
reproduksi realitas. Seni sebagai ekspresi sosial atau ekspresi personal atas
suatu realitas.
Jelaslah bagaimana pentingnya bagi seorang komunikator
ketika ia mengemas pemikirannya sebagai isi pesan dengan bahasa sebagai
lambang, untuk terlebih dahulu melakukan pertimbangan nilai (value judgement) apakah pesan yang ia
komunikasikan etis atau tidak, estetis atau tidak.
Kaitannya denga media sosial, bahwa realitas media tidak
mutlak merupakan cerminan realitas sesungguhnya. Operasional adalah suatu
system yang melibatkan orang-orang dengan kapasitas dan kepentingan yang
memiliki visi, misi, komitmen, dan prinsip-prinsip yang harus dipegang teguh
oleh pengelolahnya, termasuk dalam hal bisnis dan redaksional.
Laporan media yang sampai ke khalayak, adalah hasil kerja
dari suatu tim yang telah menjalani proses secara bertahap dan panjang. Memilih
peristiwa dan sumber berita oleh wartawan untuk diliput, sudah bisa “mencemari”
konsep obyektivitas. Persoalan selera dalam meliput adalah persoalan pilihan
yang sifatnya bisa subyektif. Ketika berita sampai di tim editor, obyetivitas
kembali menghadapi seleksi tahap kedua. Editor berhak menentukan liputan mana
yang layak di jadikan laporan utama, dan yang pantas ditempatkan di halaman
belakang. Atau liputan mana yang layak muat, dan mana yang tidak layak muat.
Dengan melihat nilai etika dan estetika dari berita atau informasi yang akan di
lempar ke khalayak atau publik.
Para editor media massa memilih dan menentukan liputan
dengan melihat nilai etika dan estetika dari berita atau informasi yang akan di
lempar ke khalayak atau publik.
Informasi yang diterima khalayak dari media sosial
sebagai realitas yang dikonstruksikan media, mengisi benak mereka sesuai dengan
format pemberitaan yang dilakukan media, dengan memberikan
penonjolan-penonjolan tertentu terhadap isu-isu tertentu.
Daftar pustaka:
Mufid, Muhammad. 2009. Etika dan Filsafat Komunikasi. Jakarta:
Kencana
Ardianto
Elvirano & Bambang Q-Aness. 2007. Filsafat
Ilmu Komunikasi. Bandung: Sambisio Rekatama Media
Halik, Abdul.
2013. Komunikasi Massa. Makassar:
Alauddin Univerity Press
Sumber lain:
Comments
Post a Comment